Print ...

Contributor...

  • Editor:

Path: Top

Unsur-unsur kemahiran lokal (local genius) dalam ragam hias Bugis: kajian ragam hias pada rumah tradisional Bugis Sulawesi Selatan dalam unsur-unsur estetika bentuk.

Master Theses from JBPTUNIKOMPP / 2012-06-30 07:36:32
By : Pangeran Paita Yunus, S2- Fine Arts and Design- ITB
Created : 1999-00, with files

Keyword : Traditional house; Bugis; Culture

Penelitian ini bertujuan: secara umum; untuk menginterpretasikan nilai-nilai tradisi rumah tradisional Bugis dengan berusaha mengungkapkan kembali konsepsi dan nilai-nilai budaya Bugis sebagai langkah awal ke arah penerusan nilai-nilai budaya kepada generasi selanjutnya. Secara khusus; untuk mengidentifikasi corak ragam hias yang terdapat pada rumah tradisional Bugis Sulawesi Selatan; untuk mengkaji secara jelas, lengkap dan akurat tentang fungsi, makna dan simbol ragam hias pada rumah tradisional Bugis, baik sebelum mendapat pengaruh dari luar (Hindu atau Islam) maupu sesudahnya, dan peranannya terhadap kehidupan sosial masyarakat Bugis Sulawesi Selatan; untuk mengkaji tentang konsep estetika yang melatarbelakangi penciptaan ragam hias khususnya yang terdapat pada rumah tradisional Bugis Sulawesi Selatan.

Penelitian ini adalah penelitian non-statistik atau analisis kualitatif dengan pendekatan formalis/strukturalisme dengan kajian Fungsional, estetis, dan simbolis dan pendekatan kajian adat istiadat Bugis SUlawesi Selatan. Pendekatan kajian ini dilakukan pada ragam hias yang terdapat pada rumah tradisional Bugis dengan mengambil 3 (tiga) lokasi penelitian yang termasuk dalam etnis suku Bugis, yaitu: Kabupaten Sinjai, Bone dan Sidrap.

Pengumpulan data dilakukan mellaui penelitian/penelaahan kepustakaan dan penelitian lapangan yang meliputi dokumentasi dan pencatatan, observasi, dan wawancara. Adapun hasil penelitian ini adalah bahwa rumah tradisional Bugis merupakan kesatuan bidang-bidang persegi empat dan persegi tiga mewujudkan suatu arsitektur khas Bugis yang disebut 'Bola Ugi'. Ada beberapa unsur estetika yang tercermin dalam rumah tradisional Bugis, yaitu: kesatuan (unity) yaitu semua bentuk peralatannya terwujud dari kesatuan antara besarnya tiang-tiang dengan lebar 'pattolo' dan 'arateng', antara tinggi kolong dengan tinggi dinding dan antara besar badan rumah dengan tinggi puncaknya. Proporsi (perbandingan) dan balance (keseimbangan) bahagian-bahagiannya terlihat adanya keserasian antara satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena ukuran yang mereka pakai diambil dari ukuran perbandingan dari anggota badan sendiri, seperti ukuran tinggi badan, panjang depa, panjang langkah, panjang hasta, panjang jengkal dan panjang atau lebar jari. Jadi perbandingan peralatan adalah perwujudan dari perbandingan-perbandingan dan keseimbangan yang ada pada tubuhnya sendiri, sehingga mereka menganggap rumahnya adalah dirinya sendiri. Ragam hias Saoraja harus lebih indah dan lebih baik daripada 'Bola' (rumah rakyat), misalnya, Saoraja dihiasi dengan ukiran-ukiran puncak bubungannya diberi hiasan dengan kepala kerbau atau ayam jantan, 'timpalajanya' (tutup bubungan) bertingkat sampai lima, sedangkan 'Bola' (rumah rakyat) tidak boleh. Hiasan pada anjong rumah tradisional Bugis menggunakan pola dasar penciptaan hiasan yang bersumber dari alam sekitar manusia itu berada, seperti flora, fauna, dan gejala alam seperti bulan dan bintang dan kaligrafi Arab. Hiasan flora umumnya dijumpai dalam bentuk bunga yang disebut 'Bunga Parenreng' yang mempunyai makna bunga yang menarik. Di samping hidupnya melata, menjalar kemana-mana seperti tdk ada putus- putusnya. Bunga parenreng juga bermakna sebagai rezki yang tak putus-putusnya seperti menjalarnya bunga parenreng tsb, juga bermakna sbg lambang kesuburan dan kemakmuran (nilai budaya asongireng dan agettengeng). Hiasan fauna pada anjong rumah dijumpai dalam bentuk ayam jantan, naga dan kepala kerbau. Ada beberapa saran yang diajukan sehubungan dengan penelitian ini adalah arsitektur sebagai tradisi perwujudan lambang bukan tulisan merupakan sumber informasi budaya daerah yang perlu dilestarikan agar supaya nilai-nilai budaya Bugis yang terkandung di dalamnya dapat diwariskan ke generasi berikutnya dalam rangka memperkaya kebudayaan nasional. Dengan adanya perhatian pemerintah, khususnya dalam pelestarian dan pemeliharaan bangunan-bangunan tradisional lebih menambah keyakinan bahwa rumah tradisional Bugis akan tetap terpelihara di masa mendatang. Dalam usaha pelestariannya tidak cukup hanya dengan memugar dan melindungi saja, tetapi yang lebih penting lagi ialah upaya menyadarkan masyarakat akan arti, makna, dan fungsi dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Supaya penelitian tentang arsitektur rumah tradisional ini dilanjutkan dengan mengungkapkan isi dan semua peralatan hidup dalam rumah tangga tradisional Bugis Sulawesi Selatan menurut fungsi dan tujuannya.

Description Alternative :

Penelitian ini bertujuan: secara umum; untuk menginterpretasikan nilai-nilai tradisi rumah tradisional Bugis dengan berusaha mengungkapkan kembali konsepsi dan nilai-nilai budaya Bugis sebagai langkah awal ke arah penerusan nilai-nilai budaya kepada generasi selanjutnya. Secara khusus; untuk mengidentifikasi corak ragam hias yang terdapat pada rumah tradisional Bugis Sulawesi Selatan; untuk mengkaji secara jelas, lengkap dan akurat tentang fungsi, makna dan simbol ragam hias pada rumah tradisional Bugis, baik sebelum mendapat pengaruh dari luar (Hindu atau Islam) maupu sesudahnya, dan peranannya terhadap kehidupan sosial masyarakat Bugis Sulawesi Selatan; untuk mengkaji tentang konsep estetika yang melatarbelakangi penciptaan ragam hias khususnya yang terdapat pada rumah tradisional Bugis Sulawesi Selatan.

Penelitian ini adalah penelitian non-statistik atau analisis kualitatif dengan pendekatan formalis/strukturalisme dengan kajian Fungsional, estetis, dan simbolis dan pendekatan kajian adat istiadat Bugis SUlawesi Selatan. Pendekatan kajian ini dilakukan pada ragam hias yang terdapat pada rumah tradisional Bugis dengan mengambil 3 (tiga) lokasi penelitian yang termasuk dalam etnis suku Bugis, yaitu: Kabupaten Sinjai, Bone dan Sidrap.

Pengumpulan data dilakukan mellaui penelitian/penelaahan kepustakaan dan penelitian lapangan yang meliputi dokumentasi dan pencatatan, observasi, dan wawancara. Adapun hasil penelitian ini adalah bahwa rumah tradisional Bugis merupakan kesatuan bidang-bidang persegi empat dan persegi tiga mewujudkan suatu arsitektur khas Bugis yang disebut 'Bola Ugi'. Ada beberapa unsur estetika yang tercermin dalam rumah tradisional Bugis, yaitu: kesatuan (unity) yaitu semua bentuk peralatannya terwujud dari kesatuan antara besarnya tiang-tiang dengan lebar 'pattolo' dan 'arateng', antara tinggi kolong dengan tinggi dinding dan antara besar badan rumah dengan tinggi puncaknya. Proporsi (perbandingan) dan balance (keseimbangan) bahagian-bahagiannya terlihat adanya keserasian antara satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena ukuran yang mereka pakai diambil dari ukuran perbandingan dari anggota badan sendiri, seperti ukuran tinggi badan, panjang depa, panjang langkah, panjang hasta, panjang jengkal dan panjang atau lebar jari. Jadi perbandingan peralatan adalah perwujudan dari perbandingan-perbandingan dan keseimbangan yang ada pada tubuhnya sendiri, sehingga mereka menganggap rumahnya adalah dirinya sendiri. Ragam hias Saoraja harus lebih indah dan lebih baik daripada 'Bola' (rumah rakyat), misalnya, Saoraja dihiasi dengan ukiran-ukiran puncak bubungannya diberi hiasan dengan kepala kerbau atau ayam jantan, 'timpalajanya' (tutup bubungan) bertingkat sampai lima, sedangkan 'Bola' (rumah rakyat) tidak boleh. Hiasan pada anjong rumah tradisional Bugis menggunakan pola dasar penciptaan hiasan yang bersumber dari alam sekitar manusia itu berada, seperti flora, fauna, dan gejala alam seperti bulan dan bintang dan kaligrafi Arab. Hiasan flora umumnya dijumpai dalam bentuk bunga yang disebut 'Bunga Parenreng' yang mempunyai makna bunga yang menarik. Di samping hidupnya melata, menjalar kemana-mana seperti tdk ada putus- putusnya. Bunga parenreng juga bermakna sebagai rezki yang tak putus-putusnya seperti menjalarnya bunga parenreng tsb, juga bermakna sbg lambang kesuburan dan kemakmuran (nilai budaya asongireng dan agettengeng). Hiasan fauna pada anjong rumah dijumpai dalam bentuk ayam jantan, naga dan kepala kerbau. Ada beberapa saran yang diajukan sehubungan dengan penelitian ini adalah arsitektur sebagai tradisi perwujudan lambang bukan tulisan merupakan sumber informasi budaya daerah yang perlu dilestarikan agar supaya nilai-nilai budaya Bugis yang terkandung di dalamnya dapat diwariskan ke generasi berikutnya dalam rangka memperkaya kebudayaan nasional. Dengan adanya perhatian pemerintah, khususnya dalam pelestarian dan pemeliharaan bangunan-bangunan tradisional lebih menambah keyakinan bahwa rumah tradisional Bugis akan tetap terpelihara di masa mendatang. Dalam usaha pelestariannya tidak cukup hanya dengan memugar dan melindungi saja, tetapi yang lebih penting lagi ialah upaya menyadarkan masyarakat akan arti, makna, dan fungsi dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Supaya penelitian tentang arsitektur rumah tradisional ini dilanjutkan dengan mengungkapkan isi dan semua peralatan hidup dalam rumah tangga tradisional Bugis Sulawesi Selatan menurut fungsi dan tujuannya.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationS
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id