Print ...

Contributor...

  • Tatang Suheri, S.T.,, Editor:

Downnload...

Path: Top > S1-Final_Project > Fakultas_Teknik_dan_Ilmu_Komputer > Teknik_Perencanaan_Wilayah_dan_Kota > 2008

IDENTIFIKASI PERSEPSI MASYARAKAT BERPENDAPATAN MENENGAH BAWAH TENTANG DERAJAT KEPENTINGAN PEMILIHAN LOKASI RUMAH SUSUN (Studi Kasus: Kelurahan Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung)

Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2010-03-02 14:48:31
By : AUDY SAAVEDRA; NIM 10602007, Perpustakaan UNIKOM (audysaavedra@yahoo.com)
Created : 2008-12-19, with 5 files

Keyword : MASYARAKAT MENENGAH BAWAH, DERAJAT, RUMAH SUSUN

Rumah susun adalah hunian vertikal yang ditujukan kepada masyarakat berpendapatan



menengah ke bawah yang tinggal di kawasan perkotaan dengan tingkat urbanisasi dan



kekumuhan yang tinggi, serta berpenduduk lebih dari 1,5 juta jiwa. Termasuk di antaranya adalah



Kota Bandung. Oleh karena itu, terdapat 11 titik sasaran lokasi prioritas dalam program investasi



pembangunan rumah susun di Kota Bandung. Salah satu lokasinya adalah Kecamatan



Kiaracondong, di mana secara administratif Kelurahan Babakan Sari termasuk di dalamnya.



Sementara dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69/1996 tentang Hak dan Kewajiban Serta



Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat, dijelaskan bahwa setiap warga negara berhak



untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan.



Namun kenyataannya, pemerintah pusat dan daerah selama ini tidak memperhatikan



kondisi eksisting dan aspirasi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah yang menjadi



kelompok sasaran pembangunan rumah susun sederhana, baik sewa maupun milik. Pemerintah



tersebut hanya melihat dari sudut pandang penyelenggara pembangunan rumah susun. Hal ini



mengakibatkan pembangunan rumah susun tidak tepat sasaran dan lokasi. Sementara aspek



penerimaan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah terhadap rumah susun dan pola



penghuniannya relatif rendah, karena rumah susun cenderung bersifat pribadi dan penghuninya



kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini bertentangan dengan pola hidup



bertetangga yang telah membudaya di lingkungan permukiman penduduk Indonesia. Selain itu,



masyarakat berpendapatan menengah ke bawah belum terbiasa untuk tinggal di rumah susun



karena berbagai alasan, sehingga kondisi ini mempengaruhi persepsi dan keputusan masyarakat



berpendapatan menengah ke bawah untuk tinggal rumah susun.



Berdasarkan penjelasan di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah



mengidentifikasi persepsi tentang derajat kepentingan pemilihan lokasi rumah susun dari sudut



pandang masyarakat berpendapatan menengah ke bawah, yang tinggal di permukiman kumuh



Kelurahan Babakan Sari. Adapun tiga sasaran yang ditetapkan untuk mencapai tujuan penelitian



adalah: mengidentifikasi karakteristik masyarakat berpendapatan menengah ke bawah yang



tinggal di permukiman kumuh Kelurahan Babakan Sari; mengidentifikasi variabel-variabel



pemilihan lokasi rumah susun; dan menganalisis derajat kepentingan variabel-variabel pemilihan



lokasi rumah susun berdasarkan persepsi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah di



permukiman kumuh Kelurahan Babakan Sari.



Masyarakat menengah ke bawah dalam penelitian ini adalah golongan masyarakat



berpendapatan kurang dari 1.500.000,00 rupiah per bulan, yang direpresentatifkan oleh 99



responden. Jumlah sampel ini, diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan formula Slovin.



Sementara persepsi derajat kepentingan yang dimaksud, diperoleh dari tanggapan 99 responden



tersebut terhadap variabel-variabel penelitian yang ditentukan berdasarkan kajian teoritis,



dengan cara memilih derajat kepentingan berskala likert: 1=(sangat penting); 2=(penting); atau



3=(tidak penting). Adapun metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis



statistik deskriptif frekuensi, dengan bantuan perangkat lunak SPSS.



Hasil dari penelitian ini, diketahui bahwa secara umum kondisi prasarana dan sarana



penunjang lingkungan Kelurahan Babakan Sari eksisting, tidak mampu untuk melayani jumlah



penduduknya yang berdensitas sangat tinggi. Sementara pada lokasi permukiman kumuh,



masyarakatnya memiliki aset, baik rumah dan lahan tanpa bukti otentik. Kemudian dari 22



variabel penelitian, terdapat 12 variabel yang ditanggapi tanpa persepsi ‘tidak penting’ tentang



derajat kepentingan pemilihan lokasi rumah susun. Variabel-variabel tersebut adalah: variabel



kepadatan dan daya tampung penduduk; variabel keterbebasan dari bahaya banjir permukaan;



variabel keterbebasan dari SUTT; variabel prasarana jaringan jalan eksisting; variabel



prasarana jaringan air bersih dan jaringan air kotor eksisting; variabel prasarana jaringan air



hujan/drainase eksisting; variabel prasarana persampahan eksisting; variabel sarana peribadatan



eksisting; variabel sarana pendidikan eksisting; variabel sarana kesehatan eksisting; variabel



sarana pemerintahan eksisting; serta variabel sarana keamanan dan pemadam kebakaran



eksisting.

Description Alternative :

Rumah susun adalah hunian vertikal yang ditujukan kepada masyarakat berpendapatan



menengah ke bawah yang tinggal di kawasan perkotaan dengan tingkat urbanisasi dan



kekumuhan yang tinggi, serta berpenduduk lebih dari 1,5 juta jiwa. Termasuk di antaranya adalah



Kota Bandung. Oleh karena itu, terdapat 11 titik sasaran lokasi prioritas dalam program investasi



pembangunan rumah susun di Kota Bandung. Salah satu lokasinya adalah Kecamatan



Kiaracondong, di mana secara administratif Kelurahan Babakan Sari termasuk di dalamnya.



Sementara dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69/1996 tentang Hak dan Kewajiban Serta



Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat, dijelaskan bahwa setiap warga negara berhak



untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan.



Namun kenyataannya, pemerintah pusat dan daerah selama ini tidak memperhatikan



kondisi eksisting dan aspirasi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah yang menjadi



kelompok sasaran pembangunan rumah susun sederhana, baik sewa maupun milik. Pemerintah



tersebut hanya melihat dari sudut pandang penyelenggara pembangunan rumah susun. Hal ini



mengakibatkan pembangunan rumah susun tidak tepat sasaran dan lokasi. Sementara aspek



penerimaan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah terhadap rumah susun dan pola



penghuniannya relatif rendah, karena rumah susun cenderung bersifat pribadi dan penghuninya



kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini bertentangan dengan pola hidup



bertetangga yang telah membudaya di lingkungan permukiman penduduk Indonesia. Selain itu,



masyarakat berpendapatan menengah ke bawah belum terbiasa untuk tinggal di rumah susun



karena berbagai alasan, sehingga kondisi ini mempengaruhi persepsi dan keputusan masyarakat



berpendapatan menengah ke bawah untuk tinggal rumah susun.



Berdasarkan penjelasan di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah



mengidentifikasi persepsi tentang derajat kepentingan pemilihan lokasi rumah susun dari sudut



pandang masyarakat berpendapatan menengah ke bawah, yang tinggal di permukiman kumuh



Kelurahan Babakan Sari. Adapun tiga sasaran yang ditetapkan untuk mencapai tujuan penelitian



adalah: mengidentifikasi karakteristik masyarakat berpendapatan menengah ke bawah yang



tinggal di permukiman kumuh Kelurahan Babakan Sari; mengidentifikasi variabel-variabel



pemilihan lokasi rumah susun; dan menganalisis derajat kepentingan variabel-variabel pemilihan



lokasi rumah susun berdasarkan persepsi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah di



permukiman kumuh Kelurahan Babakan Sari.



Masyarakat menengah ke bawah dalam penelitian ini adalah golongan masyarakat



berpendapatan kurang dari 1.500.000,00 rupiah per bulan, yang direpresentatifkan oleh 99



responden. Jumlah sampel ini, diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan formula Slovin.



Sementara persepsi derajat kepentingan yang dimaksud, diperoleh dari tanggapan 99 responden



tersebut terhadap variabel-variabel penelitian yang ditentukan berdasarkan kajian teoritis,



dengan cara memilih derajat kepentingan berskala likert: 1=(sangat penting); 2=(penting); atau



3=(tidak penting). Adapun metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis



statistik deskriptif frekuensi, dengan bantuan perangkat lunak SPSS.



Hasil dari penelitian ini, diketahui bahwa secara umum kondisi prasarana dan sarana



penunjang lingkungan Kelurahan Babakan Sari eksisting, tidak mampu untuk melayani jumlah



penduduknya yang berdensitas sangat tinggi. Sementara pada lokasi permukiman kumuh,



masyarakatnya memiliki aset, baik rumah dan lahan tanpa bukti otentik. Kemudian dari 22



variabel penelitian, terdapat 12 variabel yang ditanggapi tanpa persepsi ‘tidak penting’ tentang



derajat kepentingan pemilihan lokasi rumah susun. Variabel-variabel tersebut adalah: variabel



kepadatan dan daya tampung penduduk; variabel keterbebasan dari bahaya banjir permukaan;



variabel keterbebasan dari SUTT; variabel prasarana jaringan jalan eksisting; variabel



prasarana jaringan air bersih dan jaringan air kotor eksisting; variabel prasarana jaringan air



hujan/drainase eksisting; variabel prasarana persampahan eksisting; variabel sarana peribadatan



eksisting; variabel sarana pendidikan eksisting; variabel sarana kesehatan eksisting; variabel



sarana pemerintahan eksisting; serta variabel sarana keamanan dan pemadam kebakaran



eksisting.

Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationP
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id