Path: Top > S1-Final_Project > Fakultas_Sastra > Sastra_Jepang > 2016

Analisis Kontrastif Gitaigo Warai (Tertawa) Dalam Bahasa Jepang Dan Bahasa Sunda Dilihat Dari Segi Maknanya

2016
Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2017-04-26 09:55:55
By : Feni Nuraeni NIM. 63811008, Perpustakaan UNIKOM
Created : 2017-04-26, with 13 files

Keyword : Analisis Kontrastif, Gitaigo Warai, Bahasa Jepang, Bahasa Sunda, Makna
Url : http://alumni.unikom.ac.id

Bahasa Sunda dan Bahasa Jepang memiliki kesamaan yaitu salah satunya di- lihat dari gitaigo berdasarkan kedua bahasa tersebut. Namun di mana ada persamaan tentu akan ada perbedaan. Antara lain yaitu dilihat dari maknanya. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang gitaigo warai bahasa Jepang dan bahasa Sunda serta perbedaan dari makna kedua gitaigo warai tersebut. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis. Kemudian objek penelitiannya yaitu gitaigo warai bahasa Jepang dan bahasa Sunda. Sedangkan pengumpulan datanya yaitu dengan melakukan studi pustaka dan wawancara dengan penutur asli bahasa Jepang dan bahasa Sunda. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, gitaigo warai bahasa Jepang berjumlah 22 yaitu ufufu, karakara, kukuk, kusukusu, ketaketa, getageta, kerakera, geragera, nikori, nikoniko, nitanita, nitari, nik, nikkori, niyari, niyaniya, ninmari, hahhak, hehhek, puk, fuffuk, dan herahera. Sedangkan gitaigo warai bahasa Sunda berjumlah 13 yaitu barakatak, belehem, belenyeh, cakakak, ceuleukeuteuk, cicirihilan, cikikik, gelenyu, gonjak, gumujeng, nyengir, dan serengeh. Berdasarkan hal yang telah dipaparkan di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa perbedaan yang terdapat dalam gitaigo warai bahasa Jepang dan bahasa Sunda antara lain jumlah gitaigo warai bahasa Jepang lebih banyak dibanding gitaigo warai bahasa Sunda, pada gitaigo warai bahasa Sunda tidak terdapat makna negatif melainkan makna positif saja, dan satu gitaigo warai dalam bahasa Jepang memaknai satu verba sedangkan satu gitaigo warai bahasa Sunda memaknai lebih dari satu makna.

Description Alternative :

Sundanese and Japanese both have similarities one of them can be seen on its gitaigo of those two languages. But where there’s similarity there’s also diffence. For example it’s meaning. Therefore the writer feels interested to do a research about gitaigo warai of Japanese and Sundanese also the differentation meaning of that gitaigo warai. In this research, the writer uses the descriptive analysis method. The object of the research are the gitaigo warai of both the Japanese language and Sundanese language. While the data collection is done through literature study and interviews with native speakers of both Japanese and Sundanese language. From the result of research conducted, there are a total of 22 gitaigo warai in the Japanese language which are ufufu, karakara, kukuk, kusukusu, ketaketa, getageta, kerakera, geragera, nikori, nikoniko, nitanita, nitari, nik, nikkkori, niyari, niyaniya, ninmari, hahhak, hehhek, puk, fuffuk, and herahera. While there are 13 gitaigo warai in the Sundanese language which are barakatak, belehem, belenyeh, cakakak, ceuleukeuteuk, cicirihilan, cikikik, gelenyu, gonjak, gumujeng, nyengir, and serengeh. Based on what has been described above, the authors conclude that the differences found in gitaigo warai Japanese Sundanese which is the amount of Japanese gitaigo warai more than gitaigo warai Sundanese, on gitaigo warai Sundanese there are no negative meaning, but the meaning of positives only and Japanese gitaigo warai has one verb for one meaning, meanwhile in Sundanese gitaigo warai’s verb more than one meaning.

Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationP
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id