Print ...

Contributor...

  • , Editor:

Downnload...

Path: Top > S1-Final_Project > Fakultas_Desain > Desain_Komunikasi_Visual > 2006

PERANCANGAN MEDIA ALTERNATIF BELAJAR BAHASA INGGRIS UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR

Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2010-11-02 14:21:56
By : Akhmad Arfianto; NIM 51901807, JURUSAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL, FAKULTAS DESAIN
Created : 2006-03-18, with 5 files

Keyword : MEDIA ALTERNATIF BELAJAR, BAHASA INGGRIS.
Url : http://

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting. Agar sebuah komunikasi dapat berlangsung secara baik maka bahasa yang digunakan antara komunikator dan komunikan harus dapat dimengerti satu sama lain. Bahasa di dunia sangat kompleks, maka untuk dapat berkomunikasi antarbangsa disepakati adanya bahasa internasional. Pada forum PBB ada tujuh bahasa internasional yang disepakati, yaitu bahasa Mandarin, bahasa Inggris, bahasa Spanyol, bahasa Prancis, bahasa Jerman, bahasa Rusia, dan bahasa Arab.




Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang telah lama menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah. Bahasa Inggris diajarkan agar pada saatnya nanti siswa mampu menyerap dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya, serta pengembangan hubungan antarbangsa. Dilihat dari perkembangan zaman (era global), bahasa Inggris semakin dibutuhkan oleh para individu. Karena faktor kebutuhan tersebut, maka mata pelajaran bahasa Inggris pada saat ini telah diajarkan mulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar bahkan taman kanak-kanak.




Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) belum memasukan mata pelajaran bahasa Inggris di dalam pelajaran wajib untuk sekolah dasar. Akan tetapi, sekolah dasar pada saat ini telah mengajarkan pelajaran bahasa Inggris yang tercakup dalam mata pelajaran tambahan (muatan lokal). Pada tahun ajaran 1998/1999 sampai 2002/2003, mulok bahasa Inggris hanya diberikan kepada murid sekolah dasar kelas 4 sampai kelas 6. Kemudian pada tahun ajaran 2003/2004, mulok bahasa Inggris mulai diajarkan kepada seluruh siswa sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6. Hal ini dirumuskan dalam UU RI No. 20 Th 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 30 ayat 1 yang mewajibkan mulok bahasa Inggris pada tingkat sekolah dasar.




Dalam proses belajar mengajar bahasa Inggris di sekolah dasar, maka dibutuhkan kesiapan dari tenaga pendidik, peserta didik, dan media pengajaran. Proses belajar mengajar juga dipengaruhi faktor luar yang mencakup lingkungan (alami dan sosial) dan instrumental (kurikulum, sarana, program, dan guru) serta faktor dalam yang mencakup fisiologis (kondisi fisiologis umum dan kondisi panca indera) dan psikologis (minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif).




Tenaga pengajar (guru) dituntut kesiapannya untuk dapat mencapai tujuan dari pendidikan bahasa Inggris ditingkat sekolah dasar. Berdasarkan peta kompetensi, guru bahasa Inggris sekolah dasar dituntut memiliki kemampuan dasar untuk berkomunikasi secara lisan dan tulisan dalam kehidupan sehari-hari sesuai kebutuhan lingkungan (kelas) dengan penguasaan kosakata (minimal 750 kata) dan tata bahasa yang sederhana. Akan tetapi, menurut Muhyi Syahripudin (kepala dinas pendidikan) pada kenyataannya kualitas guru bahasa Inggris di sekolah dasar, baru sekitar sepuluh persen yang menguasai bahasa Inggris dari jumlah keseluruhan.




Kesiapan peserta didik (siswa) untuk menerima pelajaran bahasa Inggris juga sangat menentukan keberhasilan proses belajar. Kondisi individu merupakan faktor yang paling menentukan sebuah keberhasilan dari proses belajar. Faktor individu dapat digolongkan menjadi dua. Faktor fisiologis yang baik akan menghasilkan keberhasilan yang baik pula. Sedangkan faktor psikologis sangat kompleks pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar, karena mencakup minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif. Faktor tersebut berbeda-beda pada setiap individu dan ini menyebabkan tidak meratanya hasil belajar dari setiap individunya. Proses belajar mengajar di sekolah tidak akan menunggu siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Kondisi tersebut membuat siswa-siswa yang mengalami kesulitan menguasai bahasa Inggris semakin tertinggal dan terhambat untuk mengikuti materi-materi berikutnya. Jika keadaan itu terus berlanjut maka kendala yang dihadapi siswa semakin menumpuk. Keadaan tersebut terlihat ketika pelajaran bahasa Inggris menjadi sebuah syarat kelulusan dijenjang SLTP dan SMU. Pada Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2004, berdasarkan penelitian Prof. Dr. Djohar MS tercatat sebanyak 800.000 lebih siswa SLTP dan SMU seluruh Indonesia yang tidak lulus dalam tiga mata pelajaran yang salah satunya adalah bahasa Inggris. Para siswa tersebut tidak lulus dengan standar nilai kelulusan 4,01. Persiapan siswa perlu ditingkatkan untuk menghadapi UAN 2005. Hal tersebut menjadi penting karena pemerintah berencana menaikan standar nilai kelulusan menjadi 4,50 pada tahun 2005. Agar masalah penguasaan pelajaran bahasa Inggris ini tidak berlarut, maka perlu diantisipasi sejak ditingkat sekolah dasar.




Proses belajar mengajar bahasa Inggris pada sekolah dasar diselenggarakan dalam sepekan satu kali. Durasi yang dialokasikan untuk siswa kelas 1 dalam pelajaran ini adalah 60 menit. Dengan kondisi tersebut, siswa kelas 1 ditargetkan mengusai 90 kosakata dan beberapa tatabahasa sederhana. Untuk mencapai target tersebut, siswa dibantu dengan media belajar buku paket. Pada saat ini, karena adanya otonomi maka pemerintah tidak lagi menyediakan buku paket wajib. Oleh sebab itu, sekolah dapat menggunakan buku paket apa saja yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Buku paket yang digunakan di sekolah menuntut peran aktif dari tenaga pengajar dan terkadang tidak sesuai dengan kurikulum. Berdasarkan pernyataan beberapa guru, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mengingat kosakata bahasa Inggris dibandingkan membaca dan menulis bahasa Inggris. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian penulis, bahwa 68,42% siswa mengalami kesulitan dalam menghafal dan menterjemahkan kosakata, 15,78% siswa kesulitan menulis, 10,52% siswa kesulitan membaca, dan 5,26% abstain. Agar dapat mengingat sebuah kata, maka siswa perlu belajar di luar sekolah. Untuk belajar di luar sekolah siswa membutuhkan sebuah media yang dapat digunakan tanpa adanya tenaga pengajar.




Bagi masyarakat mampu, masalah belajar bahasa Inggris di luar sekolah dapat diatasi dengan les privat atau dengan media alternatif seperti CD interaktif. Akan tetapi, untuk masyarakat menengah bawah cukup berat untuk memasukan anaknya ke les privat atau menyediakan komputer agar dapat menggunakan CD interaktif. Oleh karena itu, kebutuhan siswa akan media belajar alternatif yang dapat digunakan semua kalangan sangat diperlukan untuk membantu belajar di luar sekolah. Media itu juga harus memiliki kesesuaian materi dengan kurikulum yang ada, sehingga hasil belajarnya langsung dapat diterapkan dalam lingkungan sekolah.

Description Alternative :

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting. Agar sebuah komunikasi dapat berlangsung secara baik maka bahasa yang digunakan antara komunikator dan komunikan harus dapat dimengerti satu sama lain. Bahasa di dunia sangat kompleks, maka untuk dapat berkomunikasi antarbangsa disepakati adanya bahasa internasional. Pada forum PBB ada tujuh bahasa internasional yang disepakati, yaitu bahasa Mandarin, bahasa Inggris, bahasa Spanyol, bahasa Prancis, bahasa Jerman, bahasa Rusia, dan bahasa Arab.




Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang telah lama menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah. Bahasa Inggris diajarkan agar pada saatnya nanti siswa mampu menyerap dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya, serta pengembangan hubungan antarbangsa. Dilihat dari perkembangan zaman (era global), bahasa Inggris semakin dibutuhkan oleh para individu. Karena faktor kebutuhan tersebut, maka mata pelajaran bahasa Inggris pada saat ini telah diajarkan mulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar bahkan taman kanak-kanak.




Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) belum memasukan mata pelajaran bahasa Inggris di dalam pelajaran wajib untuk sekolah dasar. Akan tetapi, sekolah dasar pada saat ini telah mengajarkan pelajaran bahasa Inggris yang tercakup dalam mata pelajaran tambahan (muatan lokal). Pada tahun ajaran 1998/1999 sampai 2002/2003, mulok bahasa Inggris hanya diberikan kepada murid sekolah dasar kelas 4 sampai kelas 6. Kemudian pada tahun ajaran 2003/2004, mulok bahasa Inggris mulai diajarkan kepada seluruh siswa sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6. Hal ini dirumuskan dalam UU RI No. 20 Th 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 30 ayat 1 yang mewajibkan mulok bahasa Inggris pada tingkat sekolah dasar.




Dalam proses belajar mengajar bahasa Inggris di sekolah dasar, maka dibutuhkan kesiapan dari tenaga pendidik, peserta didik, dan media pengajaran. Proses belajar mengajar juga dipengaruhi faktor luar yang mencakup lingkungan (alami dan sosial) dan instrumental (kurikulum, sarana, program, dan guru) serta faktor dalam yang mencakup fisiologis (kondisi fisiologis umum dan kondisi panca indera) dan psikologis (minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif).




Tenaga pengajar (guru) dituntut kesiapannya untuk dapat mencapai tujuan dari pendidikan bahasa Inggris ditingkat sekolah dasar. Berdasarkan peta kompetensi, guru bahasa Inggris sekolah dasar dituntut memiliki kemampuan dasar untuk berkomunikasi secara lisan dan tulisan dalam kehidupan sehari-hari sesuai kebutuhan lingkungan (kelas) dengan penguasaan kosakata (minimal 750 kata) dan tata bahasa yang sederhana. Akan tetapi, menurut Muhyi Syahripudin (kepala dinas pendidikan) pada kenyataannya kualitas guru bahasa Inggris di sekolah dasar, baru sekitar sepuluh persen yang menguasai bahasa Inggris dari jumlah keseluruhan.




Kesiapan peserta didik (siswa) untuk menerima pelajaran bahasa Inggris juga sangat menentukan keberhasilan proses belajar. Kondisi individu merupakan faktor yang paling menentukan sebuah keberhasilan dari proses belajar. Faktor individu dapat digolongkan menjadi dua. Faktor fisiologis yang baik akan menghasilkan keberhasilan yang baik pula. Sedangkan faktor psikologis sangat kompleks pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar, karena mencakup minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif. Faktor tersebut berbeda-beda pada setiap individu dan ini menyebabkan tidak meratanya hasil belajar dari setiap individunya. Proses belajar mengajar di sekolah tidak akan menunggu siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Kondisi tersebut membuat siswa-siswa yang mengalami kesulitan menguasai bahasa Inggris semakin tertinggal dan terhambat untuk mengikuti materi-materi berikutnya. Jika keadaan itu terus berlanjut maka kendala yang dihadapi siswa semakin menumpuk. Keadaan tersebut terlihat ketika pelajaran bahasa Inggris menjadi sebuah syarat kelulusan dijenjang SLTP dan SMU. Pada Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2004, berdasarkan penelitian Prof. Dr. Djohar MS tercatat sebanyak 800.000 lebih siswa SLTP dan SMU seluruh Indonesia yang tidak lulus dalam tiga mata pelajaran yang salah satunya adalah bahasa Inggris. Para siswa tersebut tidak lulus dengan standar nilai kelulusan 4,01. Persiapan siswa perlu ditingkatkan untuk menghadapi UAN 2005. Hal tersebut menjadi penting karena pemerintah berencana menaikan standar nilai kelulusan menjadi 4,50 pada tahun 2005. Agar masalah penguasaan pelajaran bahasa Inggris ini tidak berlarut, maka perlu diantisipasi sejak ditingkat sekolah dasar.




Proses belajar mengajar bahasa Inggris pada sekolah dasar diselenggarakan dalam sepekan satu kali. Durasi yang dialokasikan untuk siswa kelas 1 dalam pelajaran ini adalah 60 menit. Dengan kondisi tersebut, siswa kelas 1 ditargetkan mengusai 90 kosakata dan beberapa tatabahasa sederhana. Untuk mencapai target tersebut, siswa dibantu dengan media belajar buku paket. Pada saat ini, karena adanya otonomi maka pemerintah tidak lagi menyediakan buku paket wajib. Oleh sebab itu, sekolah dapat menggunakan buku paket apa saja yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Buku paket yang digunakan di sekolah menuntut peran aktif dari tenaga pengajar dan terkadang tidak sesuai dengan kurikulum. Berdasarkan pernyataan beberapa guru, banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mengingat kosakata bahasa Inggris dibandingkan membaca dan menulis bahasa Inggris. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian penulis, bahwa 68,42% siswa mengalami kesulitan dalam menghafal dan menterjemahkan kosakata, 15,78% siswa kesulitan menulis, 10,52% siswa kesulitan membaca, dan 5,26% abstain. Agar dapat mengingat sebuah kata, maka siswa perlu belajar di luar sekolah. Untuk belajar di luar sekolah siswa membutuhkan sebuah media yang dapat digunakan tanpa adanya tenaga pengajar.




Bagi masyarakat mampu, masalah belajar bahasa Inggris di luar sekolah dapat diatasi dengan les privat atau dengan media alternatif seperti CD interaktif. Akan tetapi, untuk masyarakat menengah bawah cukup berat untuk memasukan anaknya ke les privat atau menyediakan komputer agar dapat menggunakan CD interaktif. Oleh karena itu, kebutuhan siswa akan media belajar alternatif yang dapat digunakan semua kalangan sangat diperlukan untuk membantu belajar di luar sekolah. Media itu juga harus memiliki kesesuaian materi dengan kurikulum yang ada, sehingga hasil belajarnya langsung dapat diterapkan dalam lingkungan sekolah.

Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationJ
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id