Print ...

Contributor...

  • , Editor:

Downnload...

Path: Top > S1-Final_Project > Fakultas_Desain > Desain_Komunikasi_Visual > 2006

KAMUS INTERAKTIF BAHASA SUNDA UNTUK ANAK USIA 6-8 TAHUN

Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2010-11-02 14:22:13
By : A.M.SYAHRUL.R.; NIM 51901006, Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Desain.
Created : 2006-09-13, with 2 files

Keyword : KAMUS INTERAKTIF BAHASA SUNDA.
Url : http://

Bahasa Sunda adalah bahasa yang diciptakan dan digunakan sebagai alat komunikasi oleh Suku Sunda, dan sebagai alat pengembang serta pendukung kebudayaan Sunda itu sendiri. Selain itu bahasa Sunda merupakan bagian dari budaya yang memberi karakter yang khas sebagai identitas Suku Sunda yang merupakan salah satu Suku dari beberapa Suku yang ada di Indonesia.




Demikian pentingnya suatu bahasa sunda bagi Suku Sunda perlu untuk terus dipertahankan pemakaiannya dan diberdayakan fungsinya. Karena bahasa tidak hanya bagian dari budaya yang harus dipelihara, juga merupakan alat berekspresi manusia dalam keberagaman. Disadari pula dalam keberadaan bahasa sunda pada saat ini berada pada susunan multibahasa. Sehingga ada kemugkinan bahasa Sunda akan lenyap begitu saja. Itulah sebabnya penting bagi Suku Sunda untuk belajar bahasa Sunda sebagai salah satu langkah untuk mempertahankan pemakian dan memberdayakan fungsi bahasa Sunda di tatar Sunda, sehingga bahasa Sunda tidak akan mengalami kepunahan.




Dalam proses pembelajaran bahasa Sunda, tentunya harus dimulai sejak dini, yang diawali di Lingkungan Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah. Lingkungan Keluarga merupakan prioritas utama bagi anak dalam proses belajar bahasa Sunda, dengan orang tua sebagai guru dan sekaligus model yang tepat bagi anak untuk belajar bahasa Sunda, membiasakan berbahasa Sunda, dan menanamkan kesadaran berbahasa Sunda. Dengan menyapa, menasehati, mendoakan, mengantar tidur, dan situasi lainnya, hingga ketika orang tua anak menghardik yang di penuhi bunyi-bunyian bahasa Sunda yang erat dengan nilai-nilai budaya dengan seperti itu, anak akan fasih dalam berbahasa Sunda. Selain itu posisi orang tua yang begitu terhormat bagi anak-anaknya, merupakan pemegang kunci awal dalam membisakan anak menggunakan bahasa daerah, guna memandu anak untuk memperoleh kesadaran dan kepercayaan yang lebih dalam merealisasikan jati dirinya, di samping memperoleh kebanggaan yang sah dan logis. Karena secara psikologis, anak lebih banyak mempunyai kecenderungan untuk melihat, meniru, dan melakukan terhadap prilaku yang ada di sekitarnya, atau para psikolog menyebutnya “peniruan”. Proses peniruan itu harus mendapat dukungan dari lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat dimana tinggal. Karena lingkungan masyarakat mempunyai peranan dalam proses belajar bahasa Sunda dimana bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sehingga anak akan terbiasa berbahasa Sunda ketika berkomunikasi.




Tidak demikian halnya dengan kodisi pembelajaran bahasa Sunda di kota Bandung pada saat ini. Dimana lingkungan keluarga bukan merupakan prioritas utama anak dalam belajar bahasa Sunda. Karena orang tua anak sekarang di kota Bandung lebih dominan memperkenalkan, membiasakan, dan mengajarkan anak untuk belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama yang anak kenal dalam berkomunikasi. Dengan alasan kebutuhan (keperluan), kepentingan untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, yang orientasinya jelas, yakni menjadikan bahasa itu sebagai alat atau medium meraih sesuatu yang lebih tinggi sehingga menuntut masyarakat Sunda untuk mempelajarinya. Artinya bila dibandingkan dengan kebutuhan, bahasa Sunda akan dipelajarinya, tetapi sangat sulit menempatkan bahasa Sunda pada posisi yang sangat dibutuhkan untuk dipelajari.




Selain faktor-faktor tersebut di atas yang menyebabkan orang tua enggan menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa yang pertama yang harus dipelajari anak yaitu, mereka takut anaknya berbicara kasar ketika berkomunikasi, mereka takut anaknya mempunyai logat Sunda karena logat Sunda dianggap tidak modern atau tidak intelek, mereka beranggapan bahasa Sunda itu susuah untuk dipelajari, karena dalam bahasa Sunda terdapat Undak Usuk Basa yang mengatur dialek bahasa terhadap lawan komunikasi sesuai dengan keadaan dan tingkatan usia.




Demikian pula halnya di Lingkungan Sekolah dan Masyarakat. Proses belajar bahasa Sunda yang hanya dua jam dalam sepekan, upaya anak untuk memperlajari dan memahai bahasa Sunda cederung hanya sebatas mengejar nilai akademis, sedangkan esensi dari pembelajaran bahasa Sunda di Sekolah terhadap bahasa Sunda, serta kemauan dan kesiapan anak untuk menggunakan dan mempelajarinya masih jauh dari harapan. Kemauan dan kesiapan anak untuk menerima pelajaran bahasa Sunda di Lingkungan formal dan non formal juga sangat menentukan proses keberhasilan belajar. Kondisi individu, merupakan faktor yang paling menentukan sebuah keberhasilan dari proses belajar. Karena kondisi fisiologis anak yang baik akan menghasilkan keberhasilan yang baik pula. Sedangkan kondisi psikologis anak sangat kompleks pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar, karena mencakup minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif anak.




Sementara itu media alternatif belajar bahasa Sunda yang ada saat ini masih sangat terbatas apabila dibandingkan dengan media belajar bahasa lain dengan menggunakan beberapa media diantaranya: multimedia interaktif, televisi, poster, komik, kamus bergambar, dan mainan. Media-media alternatif tersebut membantu anak untuk belajar, dengan pendekatan visual dapat menjauhkan anak dari kesan belajar formal. Selain menjauhkan anak dari kesan belajar formal pendekatan visual juga dapat merangsang minat belajar siswa, memudahkan anak dalam memahami setiap materi-materi yang diberikan Berdasarkan hal tersebut maka dapat dipastikan bahwa keberhasilan belajar sangat baik dengan menggunakan pendekatan visual.

Description Alternative :

Bahasa Sunda adalah bahasa yang diciptakan dan digunakan sebagai alat komunikasi oleh Suku Sunda, dan sebagai alat pengembang serta pendukung kebudayaan Sunda itu sendiri. Selain itu bahasa Sunda merupakan bagian dari budaya yang memberi karakter yang khas sebagai identitas Suku Sunda yang merupakan salah satu Suku dari beberapa Suku yang ada di Indonesia.




Demikian pentingnya suatu bahasa sunda bagi Suku Sunda perlu untuk terus dipertahankan pemakaiannya dan diberdayakan fungsinya. Karena bahasa tidak hanya bagian dari budaya yang harus dipelihara, juga merupakan alat berekspresi manusia dalam keberagaman. Disadari pula dalam keberadaan bahasa sunda pada saat ini berada pada susunan multibahasa. Sehingga ada kemugkinan bahasa Sunda akan lenyap begitu saja. Itulah sebabnya penting bagi Suku Sunda untuk belajar bahasa Sunda sebagai salah satu langkah untuk mempertahankan pemakian dan memberdayakan fungsi bahasa Sunda di tatar Sunda, sehingga bahasa Sunda tidak akan mengalami kepunahan.




Dalam proses pembelajaran bahasa Sunda, tentunya harus dimulai sejak dini, yang diawali di Lingkungan Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah. Lingkungan Keluarga merupakan prioritas utama bagi anak dalam proses belajar bahasa Sunda, dengan orang tua sebagai guru dan sekaligus model yang tepat bagi anak untuk belajar bahasa Sunda, membiasakan berbahasa Sunda, dan menanamkan kesadaran berbahasa Sunda. Dengan menyapa, menasehati, mendoakan, mengantar tidur, dan situasi lainnya, hingga ketika orang tua anak menghardik yang di penuhi bunyi-bunyian bahasa Sunda yang erat dengan nilai-nilai budaya dengan seperti itu, anak akan fasih dalam berbahasa Sunda. Selain itu posisi orang tua yang begitu terhormat bagi anak-anaknya, merupakan pemegang kunci awal dalam membisakan anak menggunakan bahasa daerah, guna memandu anak untuk memperoleh kesadaran dan kepercayaan yang lebih dalam merealisasikan jati dirinya, di samping memperoleh kebanggaan yang sah dan logis. Karena secara psikologis, anak lebih banyak mempunyai kecenderungan untuk melihat, meniru, dan melakukan terhadap prilaku yang ada di sekitarnya, atau para psikolog menyebutnya “peniruan”. Proses peniruan itu harus mendapat dukungan dari lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat dimana tinggal. Karena lingkungan masyarakat mempunyai peranan dalam proses belajar bahasa Sunda dimana bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sehingga anak akan terbiasa berbahasa Sunda ketika berkomunikasi.




Tidak demikian halnya dengan kodisi pembelajaran bahasa Sunda di kota Bandung pada saat ini. Dimana lingkungan keluarga bukan merupakan prioritas utama anak dalam belajar bahasa Sunda. Karena orang tua anak sekarang di kota Bandung lebih dominan memperkenalkan, membiasakan, dan mengajarkan anak untuk belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama yang anak kenal dalam berkomunikasi. Dengan alasan kebutuhan (keperluan), kepentingan untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, yang orientasinya jelas, yakni menjadikan bahasa itu sebagai alat atau medium meraih sesuatu yang lebih tinggi sehingga menuntut masyarakat Sunda untuk mempelajarinya. Artinya bila dibandingkan dengan kebutuhan, bahasa Sunda akan dipelajarinya, tetapi sangat sulit menempatkan bahasa Sunda pada posisi yang sangat dibutuhkan untuk dipelajari.




Selain faktor-faktor tersebut di atas yang menyebabkan orang tua enggan menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa yang pertama yang harus dipelajari anak yaitu, mereka takut anaknya berbicara kasar ketika berkomunikasi, mereka takut anaknya mempunyai logat Sunda karena logat Sunda dianggap tidak modern atau tidak intelek, mereka beranggapan bahasa Sunda itu susuah untuk dipelajari, karena dalam bahasa Sunda terdapat Undak Usuk Basa yang mengatur dialek bahasa terhadap lawan komunikasi sesuai dengan keadaan dan tingkatan usia.




Demikian pula halnya di Lingkungan Sekolah dan Masyarakat. Proses belajar bahasa Sunda yang hanya dua jam dalam sepekan, upaya anak untuk memperlajari dan memahai bahasa Sunda cederung hanya sebatas mengejar nilai akademis, sedangkan esensi dari pembelajaran bahasa Sunda di Sekolah terhadap bahasa Sunda, serta kemauan dan kesiapan anak untuk menggunakan dan mempelajarinya masih jauh dari harapan. Kemauan dan kesiapan anak untuk menerima pelajaran bahasa Sunda di Lingkungan formal dan non formal juga sangat menentukan proses keberhasilan belajar. Kondisi individu, merupakan faktor yang paling menentukan sebuah keberhasilan dari proses belajar. Karena kondisi fisiologis anak yang baik akan menghasilkan keberhasilan yang baik pula. Sedangkan kondisi psikologis anak sangat kompleks pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar, karena mencakup minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif anak.




Sementara itu media alternatif belajar bahasa Sunda yang ada saat ini masih sangat terbatas apabila dibandingkan dengan media belajar bahasa lain dengan menggunakan beberapa media diantaranya: multimedia interaktif, televisi, poster, komik, kamus bergambar, dan mainan. Media-media alternatif tersebut membantu anak untuk belajar, dengan pendekatan visual dapat menjauhkan anak dari kesan belajar formal. Selain menjauhkan anak dari kesan belajar formal pendekatan visual juga dapat merangsang minat belajar siswa, memudahkan anak dalam memahami setiap materi-materi yang diberikan Berdasarkan hal tersebut maka dapat dipastikan bahwa keberhasilan belajar sangat baik dengan menggunakan pendekatan visual.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationJ
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id