Print ...

Contributor...

  • , Editor:

Downnload...

Path: Top > S1-Final_Project > Fakultas_Desain > Desain_Komunikasi_Visual > 2006

PERANCANGAN GRAFIS PROMOSI TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA

Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2010-11-02 14:22:24
By : Wawan Irawan Abasi; NIM 51996094, Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Desain
Created : 2006-10-04, with 3 files

Keyword : PERANCANGAN GRAFIS PROMOSI TAMAN NASIONAL.
Url : http://

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau, terbentang antara 6 derajat garis lintang utara sampai 11 derajat garis lintang selatan, dengan luas 1.9 juta mil persegi, memiliki kekayaan alam yang tak ternilai harganya sebagai aset negara yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Salah satunya adalah keberadaan kawasan taman nasional yang tersebar diseluruh wilayah tanah air kita. Wajib disyukuri bahwasannya Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman flora dan fauna, serta jenis -jenis flora - fauna tertentu di dunia ini yang hanya dimiliki Indonesia saja, seperti : Melati - Jasminum Sambae, anggrek bulan - Phalaenopsis Amabilis, bunga Padma Raksasa - Raflesia Arnoldi, hutan jati, biawak - komodo, Anoa, burung Cendrawasih, Jalak Bali, burung Maleo, Babirusa, Kucing emas, dan masih banyak lagi.




Taman nasional di Indonesia dibagi dalam tiga wilayah, Barat, Tengah dan Timur, dengan memiliki ciri khasnya masing - masing. Kawasan taman nasional telah diumumkan dan ditunjuk diseluruh Indonesia sebanyak 40 lokasi, dengan luas taman nasional sekitar 14,1 juta hektar yang terdiri dari 72,64% merupakan daratan dan 27,36% merupakan perairan laut. Usaha pelestarian flora dan fauna atau pelestarian sumber daya alam hayati yaitu dengan jalan mengadakan cagar alam, hutan lindung, taman nasional, dan taman laut. Taman nasional sendiri berarti gabungan sistem dalam pengelolaan suaka alam, taman wisata, taman laut, sampai kepada pengelolaan hutan produksi dengan manajemen yang terpadu.




Untuk menjaga pelestarian sumber daya alam, kawasan taman nasional dikelola oleh pemerintah dengan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Suatu kawasan taman nasional dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek - aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan taman nasional sekurang - kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan.




Pengelolaan taman nasional telah diatur dalam undang - undang republik Indonesia nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, seperti disebutkan dalam bab I, pasal I, ayat 14 yang berbunyi :
“Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi”.




Selain untuk tempat pelestarian alam, perlindungan satwa dan habitatnya, penelitian dan pengembangan dalam menunjang pemanfaatan pendidikan, atau kegiatan penunjang budidaya, taman nasional juga menawarkan objek pariwisata alam dan rekreasi. Sektor pariwisata sebagai aset daerah pada khususnya dan bagi negara pada umumnya, memiliki sumber penghasilan yang sangat besar bagi negara dibandingkan dengan sektor - sektor lainnya selain migas. Rencana Pengelolaan kawasan taman wisata alam disusun berdasarkan kajian aspek - aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya, sebagai salah satu daya tarik yang ada di taman nasional.




Dari begitu banyak taman nasional yang tersebar diseluruh Indonesia, salah satunya adalah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) yang terletak diantara Lembah Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow, Propinsi Sulawesi Utara sampai Lembah Bone Kabupaten Gorontalo, Propinsi Gorontalo. Ada dua route yang dapat ditempuh dari Manado (ibu kota propinsi SULUT) sampai ke lokasi, yaitu lewat jalan darat melalui sepanjang pantai (lewat Kapitu - Inobonto) terus ke Doloduo, kira - kira berjarak 260 km, dan lewat pedalaman (lewat Kapitu - Motoling - Tompaso Baru) terus ke Doloduo kira - kira berjarak 250 km.




Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone telah ditetapkan sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 1068/Kpts-II/92 tanggal 18 Nopember 1992 seluas 287.115 hektar, terletak diantara Lembah Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow sampai Lembah Bone Kabupaten Gorontalo. Taman Nasional ini merupakan rangkaian pegunungan dari ketinggian 50 - 1.900 m dpl, membentang dari Barat ke Timur dan dikelilingi oleh lembah - lembah yang sempit dan lereng bukit yang terjal. Puncak gunung yang tinggi antara lain Gunung Kabila (1.735 m), Gunung Padang (1.300 m) di Dumoga dan Gunung Gambuta (1.954 m), Gunung Ali (1.945 m) serta Gunung Damar di Bone.




TNBNW memiliki empat tipe ekosistem yang menonjol, yaitu hutan sekunder, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan lumut. Diperkirakan lebih dari seribu jenis keanekaragaman hayati yang terdapat di TNBNW, bukan saja merupakan aset bagi pembangunan daerah, tetapi bersifat nasional bahkan internasional. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya kawasan tersebut sebagai peralihan antara Zona Malaysia dan Australia yang dikenal dengan "Wallacea Area".




Taman nasional ini juga memiliki karakteristik dan keunikan jenis tumbuhan dan satwa, beserta ekosistemnya yang hanya terdapat ditempat ini di dunia. Setidaknya terdapat 5 tumbuhan khas daerah ini, bermacam jenis anggrek, memiliki 24 jenis mamalia, 125 jenis aves, 11 jenis reptilia, 2 jenis amfibia, 38 jenis kupu - kupu, 200 jenis kumbang, dan 19 jenis ikan. serta memiliki 10 jenis satwa khas/endemik pulau Sulawesi. Juga terdapat beberapa lokasi/obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi, seperti : Kosinggolan, Berkemah, pendakian ke Gunung Poniki, pengamatan satwa/tumbuhan, Toraut, Lombongo, Tambun, Danau, air terjun Tumpah, sumber air panas, mendaki gunung Padang, lintas hutan, berenang, atraksi maleo dan peninggalan budaya (batu berkamar). Juga ada atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Bolaang Mongondow pada bulan Maret dan Festival Gorontalo pada bulan Mei.




TNBNW pada dasarnya memiliki hal - hal unik yang menjanjikan pengembangan, menawarkan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi potensi penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan serta pendidikan. Penelitian - penelitian dalam hal lingkungan hidup diantaranya, global warming yang dewasa ini diketahui berkaitan dengan upaya penarikan karbon dari atmosfer (C-sequestration). Hadirnya zona rimba dalam taman nasional menyediakan berbagai peluang berkaitan dengan hal tersebut. TNBNW menyediakan bahan dan sistem untuk dipelajari seperti spesis flora dan fauna, populasi komunitas, bahkan ekosistem - ekosistemnya.




Secara umum propinsi Sulawesi Utara memiliki potensi besar dalam dunia pariwisata, karena memiliki objek - objek wisata terkenal dan selalu menarik perhatian dan mengundang wisatawan untuk datang. Keindahan dan keunikan daerah dibibir Pasifik ini memang sulit ditandingi daerah lain maupun negeri mana pun di dunia.




Taman Nasional Laut Bunaken (TNLB), Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), dan Cagar Alam Tangkoko - Dua Sudara (CATDS), Danau Tondano, adalah nama - nama tempat kesohor nan cantik yang selalu menjadi image Sulawesi Utara. Sementara di dalamnya hidup beragam keunikan ekosistem dan flora - fauna yang tak dapat dijumpai ditempat lain. Sulawesi Utara juga memiliki bandara Internasional Samratulangi, sebagai sarana transportasi udara yang memudahkan datangnya turis dalam, maupun luar negari.




Sebagai daerah yang terdekat dengan Ibu kota propinsi SULUT, TNBNW dan sekitarnya sudah sepatutnya menjadi salah satu tujuan utama para turis dan wisatan untuk berdatangan. Potensi pariwisata dan keindahan alam yang megah di Kabupaten Bolaang Mongondow, seharusnya menjadi objek pemasukan devisa bagi daerah, namun hingga kini belum terkelola secara optimal, strategi promosi yang masih kurang sering membuat wisatawan kehilangan gairah untuk datang, minimnya sarana, prasarana pendukung dan sumber daya manusianya, merupakan faktor - faktor penghambat majunya pariwisata di Bolaang Mongondow.




Taman nasional sebagai aset daerah dan negara yang patut dilindungi dan dilestarikan, seharusnya tidak disalah gunakan sebagai mata pencaharian, adanya pencurian hasil hutan baik kayu, maupun non kayu yang dilakukan oleh pengusaha - pengusaha kayu dan oknum - oknum aparat yang memback-up kegiatan tersebut, dapat merugikan daerah dan negara serta dapat merusak kelestarian lingkungan dan ekosistem di TNBNW.




Penambangan emas tanpa ijin (PETI) yang terus meningkat di TNBNW menggambarkan masih lemahnya penegakkan hukum bagi para penambang liar, beberapa faktor penyebab meningkatnya penambangan liar antara lain : masih kurangnya stakeholder terhadap upaya penanggulangan PETI di dalam kawasan TNBNW, kurangnya lapangan kerja, adanya dukungan dari pihak - pihak tertentu yang mengakibatkan terjadinya penambangan emas tanpa ijin di TNBNW.




Kebiasaan berladang secara berpindah - pindah yang sudah dilakukan sejak dulu dengan menebang hutan membakarnya, ditanam dua atau tiga kali musim, kemudian ditinggalkan lagi dan mencari tempat tinggal baru, merupakan salah satu faktor pengganggu kelestarian alam TNBNW dan sekitarnya, hal ini disebabkan kurangnya faktor kesadaran dan rendahnya sumber daya manusia serta faktor ekonomi, disisi lain tidak ada lagi lahan yang baik untuk pertanian/berkebun untuk penunjang kehidupan sehari-hari.

Description Alternative :

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau, terbentang antara 6 derajat garis lintang utara sampai 11 derajat garis lintang selatan, dengan luas 1.9 juta mil persegi, memiliki kekayaan alam yang tak ternilai harganya sebagai aset negara yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Salah satunya adalah keberadaan kawasan taman nasional yang tersebar diseluruh wilayah tanah air kita. Wajib disyukuri bahwasannya Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman flora dan fauna, serta jenis -jenis flora - fauna tertentu di dunia ini yang hanya dimiliki Indonesia saja, seperti : Melati - Jasminum Sambae, anggrek bulan - Phalaenopsis Amabilis, bunga Padma Raksasa - Raflesia Arnoldi, hutan jati, biawak - komodo, Anoa, burung Cendrawasih, Jalak Bali, burung Maleo, Babirusa, Kucing emas, dan masih banyak lagi.




Taman nasional di Indonesia dibagi dalam tiga wilayah, Barat, Tengah dan Timur, dengan memiliki ciri khasnya masing - masing. Kawasan taman nasional telah diumumkan dan ditunjuk diseluruh Indonesia sebanyak 40 lokasi, dengan luas taman nasional sekitar 14,1 juta hektar yang terdiri dari 72,64% merupakan daratan dan 27,36% merupakan perairan laut. Usaha pelestarian flora dan fauna atau pelestarian sumber daya alam hayati yaitu dengan jalan mengadakan cagar alam, hutan lindung, taman nasional, dan taman laut. Taman nasional sendiri berarti gabungan sistem dalam pengelolaan suaka alam, taman wisata, taman laut, sampai kepada pengelolaan hutan produksi dengan manajemen yang terpadu.




Untuk menjaga pelestarian sumber daya alam, kawasan taman nasional dikelola oleh pemerintah dengan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Suatu kawasan taman nasional dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek - aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan taman nasional sekurang - kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan.




Pengelolaan taman nasional telah diatur dalam undang - undang republik Indonesia nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, seperti disebutkan dalam bab I, pasal I, ayat 14 yang berbunyi :
“Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi”.




Selain untuk tempat pelestarian alam, perlindungan satwa dan habitatnya, penelitian dan pengembangan dalam menunjang pemanfaatan pendidikan, atau kegiatan penunjang budidaya, taman nasional juga menawarkan objek pariwisata alam dan rekreasi. Sektor pariwisata sebagai aset daerah pada khususnya dan bagi negara pada umumnya, memiliki sumber penghasilan yang sangat besar bagi negara dibandingkan dengan sektor - sektor lainnya selain migas. Rencana Pengelolaan kawasan taman wisata alam disusun berdasarkan kajian aspek - aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya, sebagai salah satu daya tarik yang ada di taman nasional.




Dari begitu banyak taman nasional yang tersebar diseluruh Indonesia, salah satunya adalah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) yang terletak diantara Lembah Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow, Propinsi Sulawesi Utara sampai Lembah Bone Kabupaten Gorontalo, Propinsi Gorontalo. Ada dua route yang dapat ditempuh dari Manado (ibu kota propinsi SULUT) sampai ke lokasi, yaitu lewat jalan darat melalui sepanjang pantai (lewat Kapitu - Inobonto) terus ke Doloduo, kira - kira berjarak 260 km, dan lewat pedalaman (lewat Kapitu - Motoling - Tompaso Baru) terus ke Doloduo kira - kira berjarak 250 km.




Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone telah ditetapkan sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 1068/Kpts-II/92 tanggal 18 Nopember 1992 seluas 287.115 hektar, terletak diantara Lembah Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow sampai Lembah Bone Kabupaten Gorontalo. Taman Nasional ini merupakan rangkaian pegunungan dari ketinggian 50 - 1.900 m dpl, membentang dari Barat ke Timur dan dikelilingi oleh lembah - lembah yang sempit dan lereng bukit yang terjal. Puncak gunung yang tinggi antara lain Gunung Kabila (1.735 m), Gunung Padang (1.300 m) di Dumoga dan Gunung Gambuta (1.954 m), Gunung Ali (1.945 m) serta Gunung Damar di Bone.




TNBNW memiliki empat tipe ekosistem yang menonjol, yaitu hutan sekunder, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan lumut. Diperkirakan lebih dari seribu jenis keanekaragaman hayati yang terdapat di TNBNW, bukan saja merupakan aset bagi pembangunan daerah, tetapi bersifat nasional bahkan internasional. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya kawasan tersebut sebagai peralihan antara Zona Malaysia dan Australia yang dikenal dengan "Wallacea Area".




Taman nasional ini juga memiliki karakteristik dan keunikan jenis tumbuhan dan satwa, beserta ekosistemnya yang hanya terdapat ditempat ini di dunia. Setidaknya terdapat 5 tumbuhan khas daerah ini, bermacam jenis anggrek, memiliki 24 jenis mamalia, 125 jenis aves, 11 jenis reptilia, 2 jenis amfibia, 38 jenis kupu - kupu, 200 jenis kumbang, dan 19 jenis ikan. serta memiliki 10 jenis satwa khas/endemik pulau Sulawesi. Juga terdapat beberapa lokasi/obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi, seperti : Kosinggolan, Berkemah, pendakian ke Gunung Poniki, pengamatan satwa/tumbuhan, Toraut, Lombongo, Tambun, Danau, air terjun Tumpah, sumber air panas, mendaki gunung Padang, lintas hutan, berenang, atraksi maleo dan peninggalan budaya (batu berkamar). Juga ada atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Bolaang Mongondow pada bulan Maret dan Festival Gorontalo pada bulan Mei.




TNBNW pada dasarnya memiliki hal - hal unik yang menjanjikan pengembangan, menawarkan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi potensi penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan serta pendidikan. Penelitian - penelitian dalam hal lingkungan hidup diantaranya, global warming yang dewasa ini diketahui berkaitan dengan upaya penarikan karbon dari atmosfer (C-sequestration). Hadirnya zona rimba dalam taman nasional menyediakan berbagai peluang berkaitan dengan hal tersebut. TNBNW menyediakan bahan dan sistem untuk dipelajari seperti spesis flora dan fauna, populasi komunitas, bahkan ekosistem - ekosistemnya.




Secara umum propinsi Sulawesi Utara memiliki potensi besar dalam dunia pariwisata, karena memiliki objek - objek wisata terkenal dan selalu menarik perhatian dan mengundang wisatawan untuk datang. Keindahan dan keunikan daerah dibibir Pasifik ini memang sulit ditandingi daerah lain maupun negeri mana pun di dunia.




Taman Nasional Laut Bunaken (TNLB), Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), dan Cagar Alam Tangkoko - Dua Sudara (CATDS), Danau Tondano, adalah nama - nama tempat kesohor nan cantik yang selalu menjadi image Sulawesi Utara. Sementara di dalamnya hidup beragam keunikan ekosistem dan flora - fauna yang tak dapat dijumpai ditempat lain. Sulawesi Utara juga memiliki bandara Internasional Samratulangi, sebagai sarana transportasi udara yang memudahkan datangnya turis dalam, maupun luar negari.




Sebagai daerah yang terdekat dengan Ibu kota propinsi SULUT, TNBNW dan sekitarnya sudah sepatutnya menjadi salah satu tujuan utama para turis dan wisatan untuk berdatangan. Potensi pariwisata dan keindahan alam yang megah di Kabupaten Bolaang Mongondow, seharusnya menjadi objek pemasukan devisa bagi daerah, namun hingga kini belum terkelola secara optimal, strategi promosi yang masih kurang sering membuat wisatawan kehilangan gairah untuk datang, minimnya sarana, prasarana pendukung dan sumber daya manusianya, merupakan faktor - faktor penghambat majunya pariwisata di Bolaang Mongondow.




Taman nasional sebagai aset daerah dan negara yang patut dilindungi dan dilestarikan, seharusnya tidak disalah gunakan sebagai mata pencaharian, adanya pencurian hasil hutan baik kayu, maupun non kayu yang dilakukan oleh pengusaha - pengusaha kayu dan oknum - oknum aparat yang memback-up kegiatan tersebut, dapat merugikan daerah dan negara serta dapat merusak kelestarian lingkungan dan ekosistem di TNBNW.




Penambangan emas tanpa ijin (PETI) yang terus meningkat di TNBNW menggambarkan masih lemahnya penegakkan hukum bagi para penambang liar, beberapa faktor penyebab meningkatnya penambangan liar antara lain : masih kurangnya stakeholder terhadap upaya penanggulangan PETI di dalam kawasan TNBNW, kurangnya lapangan kerja, adanya dukungan dari pihak - pihak tertentu yang mengakibatkan terjadinya penambangan emas tanpa ijin di TNBNW.




Kebiasaan berladang secara berpindah - pindah yang sudah dilakukan sejak dulu dengan menebang hutan membakarnya, ditanam dua atau tiga kali musim, kemudian ditinggalkan lagi dan mencari tempat tinggal baru, merupakan salah satu faktor pengganggu kelestarian alam TNBNW dan sekitarnya, hal ini disebabkan kurangnya faktor kesadaran dan rendahnya sumber daya manusia serta faktor ekonomi, disisi lain tidak ada lagi lahan yang baik untuk pertanian/berkebun untuk penunjang kehidupan sehari-hari.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationJ
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id