Print ...

Contributor...

  • , Editor:

Downnload...

Path: Top > S1-Final_Project > Fakultas_Desain > Desain_Komunikasi_Visual > 2007

Perancangan Kampanye Pembiasaan Penggunaan Bahasa Sunda di Kalangan Remaja Kota Sukabumi Jawa Barat

Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2010-11-02 14:22:29
By : MUHAMAD NURDHAN ROKHANI; NIM 51902137, Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Desain.
Created : 2007-06-18, with 4 files

Keyword : KAMPANYE.
Url : http://

Indonesia mempunyai aneka ragam budaya dan suku bangsa, keaneka ragaman budaya itulah yang membuat bangsa Indonesia bersatu. Dari setiap suku bangsa memiliki budaya dan bahasa yang berbeda, karena letak geografis Indonesia terdiri dari beribu pulau yang terpisah.





Dari keaneka ragaman suku bangsa, Indonesia memiliki bahasa persatuan yang disebut Bahasa Indonesia. Bahasa ini diakui sebagai bahasa persatuan sejak negara ini memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Para pemuda-lah yang menjadi pelopor, penyulut api perjuangan agar bangsa Indonesia yang terpecah belah, bersatu menjadi satu kesatuan mengusir penjajah dari muka bumi ini. Mereka (para pemuda) dari setiap suku bangsa bersatu, berikrar mewakili para pemuda di setiap penjuru tanah air untuk mengakui dan bersumpah menjadi putera dan puteri bangsa, menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sebagai penyambung lidah dari keaneka ragaman bahasa dari setiap suku bangsa.





Setelah Indonesia bersatu dan merdeka selama enam puluh tahun kebelakang, selama itu pula para remaja Indonesia khususnya di pulau jawa lambat laun mulai “melupakan” bahasa persatuan bahasa Indonesia. Mereka lupa akan budaya mereka sendiri. Yaitu budaya dimana mereka dilahirkan. Padahal, persatuan itu dimulai dari perbedaan dan keaneka ragaman budaya.





Mereka semakin tertarik untuk menjadi bagian dari budaya luar yang belum tentu pantas untuk di terapkan dalam keseharian mereka. Lebih memilih menjadi orang lain daripada menjadi diri sendiri, lebih tertarik akan bahasa asing daripada bahasa sendiri, bahasa dimana mereka dididik, dibesarkan dan dewasa di lingkungannya. Tidak memikirkan akan kelestarian bahasa dan budaya tanah kelahirannya.





Khususnya di kota Sukabumi, para remaja mulai lupa akan adat dan bahasa Sunda yang seharusnya melekat pada diri mereka. Mereka mulai terpengaruh dengan berbagai budaya yang menjadikan mereka generasi idealis. Padahal mereka tinggal di atas tanah budaya dimana mereka dibesarkan yang lalu mereka tinggalkan. Akan sangat disayangkan apabila kejadian ini berlanjut sehingga kelestarian budaya bangsa yang beragam berada di tangan generasi muda yang tidak terlalu memperhatikan kelestarian budayanya.





Di dalam buku Pedoman Kurikulum Berorientasi Kompetensi Bahasa Daerah (Sunda) milik Dinas Pendidikan diterangkan secara resmi bahasa Sunda diajarkan di sekolah sejak tahun1893, zaman pemerintahan Belanda. Setelah itu dilanjutkan sampai sekarang dalam aturan yang berbeda-beda sesuai dengan perubahan kebijaksanaan pemerintah. Bahasa Sunda diajarkan di sekolah-sekolah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat Pasundan serta sejalan dengan landasan kultural. Bahkan, pada kurikulum 1994 secara khusus dan jelas dicantumkan ketentuan adanya Kurikulum Muatan Lokal, yakni berbagai mata pelajaran yang ditentukan daerah sesuai dengan kebutuhan setempat. Hal ini menunjukkan bahwa sejak tahun 1994 itulah departemen yang menangani pendidikan di Indonesia menyadari benar bahwa landasan kultural harus sejalan dengan landasan edukatif. Artinya unsur-unsur budaya daerah amat perlu dijadikan bahan kajian dan mata pelajaran di sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Description Alternative :

Indonesia mempunyai aneka ragam budaya dan suku bangsa, keaneka ragaman budaya itulah yang membuat bangsa Indonesia bersatu. Dari setiap suku bangsa memiliki budaya dan bahasa yang berbeda, karena letak geografis Indonesia terdiri dari beribu pulau yang terpisah.





Dari keaneka ragaman suku bangsa, Indonesia memiliki bahasa persatuan yang disebut Bahasa Indonesia. Bahasa ini diakui sebagai bahasa persatuan sejak negara ini memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Para pemuda-lah yang menjadi pelopor, penyulut api perjuangan agar bangsa Indonesia yang terpecah belah, bersatu menjadi satu kesatuan mengusir penjajah dari muka bumi ini. Mereka (para pemuda) dari setiap suku bangsa bersatu, berikrar mewakili para pemuda di setiap penjuru tanah air untuk mengakui dan bersumpah menjadi putera dan puteri bangsa, menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sebagai penyambung lidah dari keaneka ragaman bahasa dari setiap suku bangsa.





Setelah Indonesia bersatu dan merdeka selama enam puluh tahun kebelakang, selama itu pula para remaja Indonesia khususnya di pulau jawa lambat laun mulai “melupakan” bahasa persatuan bahasa Indonesia. Mereka lupa akan budaya mereka sendiri. Yaitu budaya dimana mereka dilahirkan. Padahal, persatuan itu dimulai dari perbedaan dan keaneka ragaman budaya.





Mereka semakin tertarik untuk menjadi bagian dari budaya luar yang belum tentu pantas untuk di terapkan dalam keseharian mereka. Lebih memilih menjadi orang lain daripada menjadi diri sendiri, lebih tertarik akan bahasa asing daripada bahasa sendiri, bahasa dimana mereka dididik, dibesarkan dan dewasa di lingkungannya. Tidak memikirkan akan kelestarian bahasa dan budaya tanah kelahirannya.





Khususnya di kota Sukabumi, para remaja mulai lupa akan adat dan bahasa Sunda yang seharusnya melekat pada diri mereka. Mereka mulai terpengaruh dengan berbagai budaya yang menjadikan mereka generasi idealis. Padahal mereka tinggal di atas tanah budaya dimana mereka dibesarkan yang lalu mereka tinggalkan. Akan sangat disayangkan apabila kejadian ini berlanjut sehingga kelestarian budaya bangsa yang beragam berada di tangan generasi muda yang tidak terlalu memperhatikan kelestarian budayanya.





Di dalam buku Pedoman Kurikulum Berorientasi Kompetensi Bahasa Daerah (Sunda) milik Dinas Pendidikan diterangkan secara resmi bahasa Sunda diajarkan di sekolah sejak tahun1893, zaman pemerintahan Belanda. Setelah itu dilanjutkan sampai sekarang dalam aturan yang berbeda-beda sesuai dengan perubahan kebijaksanaan pemerintah. Bahasa Sunda diajarkan di sekolah-sekolah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat Pasundan serta sejalan dengan landasan kultural. Bahkan, pada kurikulum 1994 secara khusus dan jelas dicantumkan ketentuan adanya Kurikulum Muatan Lokal, yakni berbagai mata pelajaran yang ditentukan daerah sesuai dengan kebutuhan setempat. Hal ini menunjukkan bahwa sejak tahun 1994 itulah departemen yang menangani pendidikan di Indonesia menyadari benar bahwa landasan kultural harus sejalan dengan landasan edukatif. Artinya unsur-unsur budaya daerah amat perlu dijadikan bahan kajian dan mata pelajaran di sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationJ
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id