Print ...

Contributor...

  • , Editor:

Path: Top

AKLIMATISASI ANGGREK DENDROBIUM DI KEBUN RAYA PURWODADI SEBAGAI MODEL KONSERVASI EX-SITU

Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2012-06-30 07:36:39
By : FAIRUS AMALIA (96710051), Dept. of Agronomy
Created : 2002-07-29, with 1 files

Keyword : AKLIMATISASI, ANGGREK ,DENDROBIUM

Angrek Dendrobium merupakan jenis Anggrek asli Indonesia yang mempunyai banyak warna, bentuk dan aroma yang khas, serta bunga Anggrek Dendrobium dapai bertahan kurang lebih 2 mingguan. Anggrek Dendrobium adalah salah satu genus Anggrek terbesar yang terdapat pada dunia ini. Diperkirakan Anggrek ini terdiri dari 1600 spesies. Bentuk bunga Anggrek Dendrobium mimiliki sepal yang bentuknya hampir menyerupai atau menyamai segitiga, dasarnya bersatu dengan kaki tugu untuk membentuk taji. Petal biasanya lebih tipis dari sepaldan bibirnya berbelah.

Kegiatang pemanfaatan Anggrek asli Indonesia dalam hal hibridasi relatif kurang, meskipun jika ditinjau dari produk silangan dibeberapa nursery (petani-petanipengembangbiakan Anggrek) dari tahun ketahun ada penambahan silangan baru, tetapi sayangnya tidak dikembangkan secara banyak. Dengan demikian problem kelestarian dan pemaanfaatan Anggrek asli Indonesia, tidak hanya karena eksploitasi dan perusakan habitat, tetapi ditunjang juda oleh problem hibridasi, industrialisasi, dan kebijakan yang kurang kondusif dan optimal. Apabila keadaan sudah demikian, maka jalan positif menyelamatkan Anggrek – anggrek asli Indonesia perlu terus dilakukan, karena seperti halnya banyak hibrida dunia yang lahir dari anggrek alam Indonesia.

Dalam usaha meningkatkan kelestarian dan pemanfaatan Anggrek asli Indonesia dilakukan berbagai cara, diantaranya yaitu dengan melakukan konservasi. Konservasi adalah suatu usaha yang dapat dilakuka dengan segera. Salah satu model yang akan dilakukan terhadap perkembangan Anggrek dari hasil kultur jaringan dalam aklimatisasi lanjutan, di lingkungan luar (konservasi ex-situ).

2.Tujuan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman Anggrek Dendrobium dialam terbuka (di kebun Raya Purwodadi) dan menentukan jumlah bibit (populasi) bibit Dendrobium hasil kultur in-vitro yang mampu menunjkkan adaptasi yang lebih baik dalam aklimatisasi ex-situ di Kebun Raya Purwodadi.

3.Metode Percobaan

Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun dengan model petak terbagi dengan 15 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang 4 kali. Adapun sebagai petak utama kondisi lingkungan (L) yang terdiri dari L1 lingkungan terbuka, L2 lingkungan setengah terbuka, dan L3 lingkungan ternaungi. Sedangkan sebagai anak petak jumlah populasi tanaman perpohon (P) terdiri dari : P1 jumlah populasi I bibit tanaman perpohon, P2 jumlah 2 bibit tanaman perpohon, P3 jumlah 3 bibit tanaman perpohon, P4 jumlah 4 bibit tanaman perpohon dan P5 jumlah 5 bibit tanaman perpohon. Sehingga terdapat 60 kali unit perlakuan setiap unit perlakuan, setiap unit perlakuan sebanyak 20 unit perlakuan. Sedangkan perubahan yang diamati adalah jumlah bibit yang hidup, julah daun, jumlah akar, luas daun, warna daun dan panjang akar.

4. Tempat dan Waktu

Percobaan dilakukan di Kebun Raya Purwodadi, Desa Purwodadi,Kecamatan Purwodadi, kabupaten Pasuruan. Dengan ketinggian tempat 300 m dpl serta mempunyai curah hujan yang sedang.

5. Hasil percobaan berdasarkan hasil Analisis Ragam menunjukkan bahwa pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup, warna daun dan jumlah akar terjadi interaksi, sedangkan yang lainnya tidak menunjukkan adanya interaksi yaitu pada variabel pengamatan luas daun, panjang akar dan jumlah daun. Tetapi pada variabel pengamatan jumlah daunmenunjukkan berbeda nyata pada perlakuan petak utama (L1)yaitu kondisi lingkungan terbuka (l1). Variabel pengamatan luas daun juga menunjukkan berbeda nyata pada petak utama (L) yaitu pada kondisi lingkungan ternaungi (L3) dan pada variabel panjang akar tidak menunjukkan berbeda nyata, tetapi nilai rerata tertinggi pada perlakuan kondisi lingkungan terbuka (L!) dan populasi 5 bibit tanaman perpohon (P5).

Pada variabel pengamatan jumlah bibit menunjukkan berbeda sangat nyata pada anak petak (P) dan berbeda nyata pada anak petak (P) dan berbeda nyata pada petak utama (L) sedangkan hasil tertinggi pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup ditunjukkan pada perlakuan kondisi lingkungan terbuka (L1), dan populasi 5 bibit tanaman perpohon (P5). Sedangkan hasil Analisis Ragam pada variabel pengamatan jumlah akar menunjukkan berbeda nyata pada petak utama (L) dan anak petak (P). hasil analisis ragam tertinggi pada pengamatan di atas adalah kondisi lingkungan terbuka (L1) dan populasi 1 bibit tanaman perpohon.

Pengaruh interaksi antara kondisi lingkungan dengan populasi jumlah bibit tanaman perpohon terhadap jumlah bibit yang hidup tampak pada pengamatan yang ke-8 (60 HST) sampai pada pengamatan yang ke-11 (81 HST) sedangkan pada variabel jumlah akar tampak pada pengamatan yang ke-5 (37 HST) sampai pada pengamatan Ke-11 (8I HST).

6. Kesimpulan.

Dari hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

 Perlakuan kondisi lingkungan dan populasi jumlah bibit berpengaruh/ berbeda nyata pada jumlah daun, luas daun, warna daun dan jumlah akar. Sedangkan pada jumlah bibit yang hidup berpengaruh sangat nyata.

 Terdapat interaksi yang sangat nyata pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup yaitu setelah umur 60-80 HST. Dan pada jumlah akar terjadi interaksi yang nyata setelah verumur 37-81 HST.

Description Alternative :

Angrek Dendrobium merupakan jenis Anggrek asli Indonesia yang mempunyai banyak warna, bentuk dan aroma yang khas, serta bunga Anggrek Dendrobium dapai bertahan kurang lebih 2 mingguan. Anggrek Dendrobium adalah salah satu genus Anggrek terbesar yang terdapat pada dunia ini. Diperkirakan Anggrek ini terdiri dari 1600 spesies. Bentuk bunga Anggrek Dendrobium mimiliki sepal yang bentuknya hampir menyerupai atau menyamai segitiga, dasarnya bersatu dengan kaki tugu untuk membentuk taji. Petal biasanya lebih tipis dari sepaldan bibirnya berbelah.

Kegiatang pemanfaatan Anggrek asli Indonesia dalam hal hibridasi relatif kurang, meskipun jika ditinjau dari produk silangan dibeberapa nursery (petani-petanipengembangbiakan Anggrek) dari tahun ketahun ada penambahan silangan baru, tetapi sayangnya tidak dikembangkan secara banyak. Dengan demikian problem kelestarian dan pemaanfaatan Anggrek asli Indonesia, tidak hanya karena eksploitasi dan perusakan habitat, tetapi ditunjang juda oleh problem hibridasi, industrialisasi, dan kebijakan yang kurang kondusif dan optimal. Apabila keadaan sudah demikian, maka jalan positif menyelamatkan Anggrek – anggrek asli Indonesia perlu terus dilakukan, karena seperti halnya banyak hibrida dunia yang lahir dari anggrek alam Indonesia.

Dalam usaha meningkatkan kelestarian dan pemanfaatan Anggrek asli Indonesia dilakukan berbagai cara, diantaranya yaitu dengan melakukan konservasi. Konservasi adalah suatu usaha yang dapat dilakuka dengan segera. Salah satu model yang akan dilakukan terhadap perkembangan Anggrek dari hasil kultur jaringan dalam aklimatisasi lanjutan, di lingkungan luar (konservasi ex-situ).

2.Tujuan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman Anggrek Dendrobium dialam terbuka (di kebun Raya Purwodadi) dan menentukan jumlah bibit (populasi) bibit Dendrobium hasil kultur in-vitro yang mampu menunjkkan adaptasi yang lebih baik dalam aklimatisasi ex-situ di Kebun Raya Purwodadi.

3.Metode Percobaan

Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun dengan model petak terbagi dengan 15 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang 4 kali. Adapun sebagai petak utama kondisi lingkungan (L) yang terdiri dari L1 lingkungan terbuka, L2 lingkungan setengah terbuka, dan L3 lingkungan ternaungi. Sedangkan sebagai anak petak jumlah populasi tanaman perpohon (P) terdiri dari : P1 jumlah populasi I bibit tanaman perpohon, P2 jumlah 2 bibit tanaman perpohon, P3 jumlah 3 bibit tanaman perpohon, P4 jumlah 4 bibit tanaman perpohon dan P5 jumlah 5 bibit tanaman perpohon. Sehingga terdapat 60 kali unit perlakuan setiap unit perlakuan, setiap unit perlakuan sebanyak 20 unit perlakuan. Sedangkan perubahan yang diamati adalah jumlah bibit yang hidup, julah daun, jumlah akar, luas daun, warna daun dan panjang akar.

4. Tempat dan Waktu

Percobaan dilakukan di Kebun Raya Purwodadi, Desa Purwodadi,Kecamatan Purwodadi, kabupaten Pasuruan. Dengan ketinggian tempat 300 m dpl serta mempunyai curah hujan yang sedang.

5. Hasil percobaan berdasarkan hasil Analisis Ragam menunjukkan bahwa pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup, warna daun dan jumlah akar terjadi interaksi, sedangkan yang lainnya tidak menunjukkan adanya interaksi yaitu pada variabel pengamatan luas daun, panjang akar dan jumlah daun. Tetapi pada variabel pengamatan jumlah daunmenunjukkan berbeda nyata pada perlakuan petak utama (L1)yaitu kondisi lingkungan terbuka (l1). Variabel pengamatan luas daun juga menunjukkan berbeda nyata pada petak utama (L) yaitu pada kondisi lingkungan ternaungi (L3) dan pada variabel panjang akar tidak menunjukkan berbeda nyata, tetapi nilai rerata tertinggi pada perlakuan kondisi lingkungan terbuka (L!) dan populasi 5 bibit tanaman perpohon (P5).

Pada variabel pengamatan jumlah bibit menunjukkan berbeda sangat nyata pada anak petak (P) dan berbeda nyata pada anak petak (P) dan berbeda nyata pada petak utama (L) sedangkan hasil tertinggi pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup ditunjukkan pada perlakuan kondisi lingkungan terbuka (L1), dan populasi 5 bibit tanaman perpohon (P5). Sedangkan hasil Analisis Ragam pada variabel pengamatan jumlah akar menunjukkan berbeda nyata pada petak utama (L) dan anak petak (P). hasil analisis ragam tertinggi pada pengamatan di atas adalah kondisi lingkungan terbuka (L1) dan populasi 1 bibit tanaman perpohon.

Pengaruh interaksi antara kondisi lingkungan dengan populasi jumlah bibit tanaman perpohon terhadap jumlah bibit yang hidup tampak pada pengamatan yang ke-8 (60 HST) sampai pada pengamatan yang ke-11 (81 HST) sedangkan pada variabel jumlah akar tampak pada pengamatan yang ke-5 (37 HST) sampai pada pengamatan Ke-11 (8I HST).

6. Kesimpulan.

Dari hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

 Perlakuan kondisi lingkungan dan populasi jumlah bibit berpengaruh/ berbeda nyata pada jumlah daun, luas daun, warna daun dan jumlah akar. Sedangkan pada jumlah bibit yang hidup berpengaruh sangat nyata.

 Terdapat interaksi yang sangat nyata pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup yaitu setelah umur 60-80 HST. Dan pada jumlah akar terjadi interaksi yang nyata setelah verumur 37-81 HST.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationD
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id