Print ...

Contributor...

  • , Editor:

Path: Top

UJI METABOLIT SEKUNDER Trichoderma sp. SEBAGAI ANTIMIKROBIA PATOGEN TANAMAN(Fusarium oxysporum) SECARA IN VITRO

Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2012-06-30 07:36:55
By : AGUNG ADRIANSYAH ( 98710060 ), Dept. of Agronomy
Created : 2002-12-20, with 1 files

Keyword : UJI METABOLIT, Trichoderma sp, IN VITRO

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan konsentrasi yang efektif dari metabolit sekunder Trichoderma sp. guna menghambat pertumbuhan patogen tanaman (Fusarium oxysporum, dan untuk mengetahui mekanisme penghambatan metabolit sekunder apakah bersifat ekstraselluler ataupun intraselluler.

Hipotesis dari penelitian ini adalah metabolit sekunder yang bersifat intraselluler dengan konsentrasi tertentu sangat efektif guna menghambat pertumbuhan Fusarium oxysporum.

Penelitian ini dilakukan di tiga tempat, yaitu Laboratorium Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Laboratorium Pusbang Biotek Universitas Muhammadiyah Malang dan Laboratorium PS-Biotek PAU Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan September 2002. Percobaan masih bersifat eksplorasi dengan menggunakan dua faktor. Alat yang digunakan adalah cawan petri, tabung reaksi, beaker glass, pipet volume, erlenmeyer, kertas saring Whatman 0,45 mM, gelas ukur, autoklaf, pipet tetes, pipet ukur mikro tip pipet, apendoff, aluminium foil, kapas, jarum ose, pH meter, botol media, penggaris, spatula, kertas saring, bunsen, corer borer, timbangan mikro, oven, tissue, tabung conical, rotary shaker, Zentrifugen Heltic, Spektrofotometer model MILTON ROY Spectronic 20D, LABSONIC U B.BRAUN Sonicator, BECKMAN DU-65 Spectrophotometer, BECKMAN Model J-6B Centrifuge dan Elektoforesis. Bahan yang digunakan adalah isolat Trichoderma sp., isolat Fusarium oxysporum, aquadest steril, spiritus, HCl, NaOH, butanol, amonium sulfat, media Potato Dextrose Broth (PDB) dan media Potato Dextrose Agar (PDA), PBS (Potassium Buffer Salin) pH 7 dan reagen untuk pengukuran kandungan potein total, SDS-PAGE (Sodium Dedocyl Sulfate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis).

Pengamatan mulai dilakukan satu hari setelah proses penaman sampai pada hari ketujuh. Adapun yang diamati meliputi pertumbuhan Trichoderma sp., profil protein metabolit sekunder baik yang bersifat ekstraselluler maupun intraselluler, pertumbuhan Fusarium oxysporum setelah mendapatkan perlakuan, kondisi hifa F. oxysporum setelah 24 jam diberi perlakuan metabolit sekunder dan uji aktivitas metabolit sekunder (kitinase).

Hasil pengamatan pada pertumbuhan kultur Trichoderma sp. yang diinduksi dengan jamur Fusarium oxysporum pada hari keempat mengalami penurunan karena proses adaptasi yang dilakukan, namun kemudian mengalami kenaikan kembali dan dilakukan pemanenan pada umur sembilan hari yang merupakan pertumbuhan Trichoderma yang optimal. Profil protein metabolit sekunder yang bersifat ekstraselluler dan intraselluler ada kecenderungan berbeda dan adanya pembentukan sintesa protein ekstraselluler yang diduga sebagai strategi adapatasi Trichoderma akibat adanya jamur patogen, yaitu F. oxysporum. Untuk pertumbuhan Fusarium oxysporum akibat pemberian perlakuan metabolit sekunder Trichoderma sp. mengalami penurunan, maka persentase penghambatan metabolit sekunder yang bersifat intraselluler memiliki daya hambat yang tinggi dibandingkan dengan metabolit ekstraselluler. Hal tersebut dikarenakan konsentrasi dari intraselluler lebih tinggi dibandingkan dengan ekstraselluler.

Untuk pengamatan secara mikroskopis didapatkan hasil adanya kondisi yang abnormal pada hifa Fusarium oxysporum yang disebabkan perlakuan metabolit sekunder. Kondisi tersebut menyebabkan hifa memiliki septa yang pendek, mengalami pembengkakan badan hifa dan adanya percabangan, badan hifa yang transparan dan ada kerusakan berupa bulatan-bulatan yang semakin lama membesar serta ujung hifa yang meruncing karena nekrosis karena terjadi kematian. Pengujian metabolit sekunder yang berupa enzim kitinase, didapatkan hasil bahwa metabolit tersebut mengandung enzim kitinase dan terbukti adanya aktivitas kitinase dengan terjadinya penguranga jumlah khitin yang ada.

Berdasarkan uraian diatas, amak dapat diambil kesimpulan bahwa metabolit sekunder Trichoderma sp. memiliki potensi guna menghambat pertum-buhan Fusarium oxysporum, metabolit intraselluler dengan konsentrasi 800 mg sangat efektif untuk menghambat F. oxysporum dan mekanisme penghambatan dilakukan secara mikoparasit.

Description Alternative :

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan konsentrasi yang efektif dari metabolit sekunder Trichoderma sp. guna menghambat pertumbuhan patogen tanaman (Fusarium oxysporum, dan untuk mengetahui mekanisme penghambatan metabolit sekunder apakah bersifat ekstraselluler ataupun intraselluler.

Hipotesis dari penelitian ini adalah metabolit sekunder yang bersifat intraselluler dengan konsentrasi tertentu sangat efektif guna menghambat pertumbuhan Fusarium oxysporum.

Penelitian ini dilakukan di tiga tempat, yaitu Laboratorium Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Laboratorium Pusbang Biotek Universitas Muhammadiyah Malang dan Laboratorium PS-Biotek PAU Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan September 2002. Percobaan masih bersifat eksplorasi dengan menggunakan dua faktor. Alat yang digunakan adalah cawan petri, tabung reaksi, beaker glass, pipet volume, erlenmeyer, kertas saring Whatman 0,45 mM, gelas ukur, autoklaf, pipet tetes, pipet ukur mikro tip pipet, apendoff, aluminium foil, kapas, jarum ose, pH meter, botol media, penggaris, spatula, kertas saring, bunsen, corer borer, timbangan mikro, oven, tissue, tabung conical, rotary shaker, Zentrifugen Heltic, Spektrofotometer model MILTON ROY Spectronic 20D, LABSONIC U B.BRAUN Sonicator, BECKMAN DU-65 Spectrophotometer, BECKMAN Model J-6B Centrifuge dan Elektoforesis. Bahan yang digunakan adalah isolat Trichoderma sp., isolat Fusarium oxysporum, aquadest steril, spiritus, HCl, NaOH, butanol, amonium sulfat, media Potato Dextrose Broth (PDB) dan media Potato Dextrose Agar (PDA), PBS (Potassium Buffer Salin) pH 7 dan reagen untuk pengukuran kandungan potein total, SDS-PAGE (Sodium Dedocyl Sulfate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis).

Pengamatan mulai dilakukan satu hari setelah proses penaman sampai pada hari ketujuh. Adapun yang diamati meliputi pertumbuhan Trichoderma sp., profil protein metabolit sekunder baik yang bersifat ekstraselluler maupun intraselluler, pertumbuhan Fusarium oxysporum setelah mendapatkan perlakuan, kondisi hifa F. oxysporum setelah 24 jam diberi perlakuan metabolit sekunder dan uji aktivitas metabolit sekunder (kitinase).

Hasil pengamatan pada pertumbuhan kultur Trichoderma sp. yang diinduksi dengan jamur Fusarium oxysporum pada hari keempat mengalami penurunan karena proses adaptasi yang dilakukan, namun kemudian mengalami kenaikan kembali dan dilakukan pemanenan pada umur sembilan hari yang merupakan pertumbuhan Trichoderma yang optimal. Profil protein metabolit sekunder yang bersifat ekstraselluler dan intraselluler ada kecenderungan berbeda dan adanya pembentukan sintesa protein ekstraselluler yang diduga sebagai strategi adapatasi Trichoderma akibat adanya jamur patogen, yaitu F. oxysporum. Untuk pertumbuhan Fusarium oxysporum akibat pemberian perlakuan metabolit sekunder Trichoderma sp. mengalami penurunan, maka persentase penghambatan metabolit sekunder yang bersifat intraselluler memiliki daya hambat yang tinggi dibandingkan dengan metabolit ekstraselluler. Hal tersebut dikarenakan konsentrasi dari intraselluler lebih tinggi dibandingkan dengan ekstraselluler.

Untuk pengamatan secara mikroskopis didapatkan hasil adanya kondisi yang abnormal pada hifa Fusarium oxysporum yang disebabkan perlakuan metabolit sekunder. Kondisi tersebut menyebabkan hifa memiliki septa yang pendek, mengalami pembengkakan badan hifa dan adanya percabangan, badan hifa yang transparan dan ada kerusakan berupa bulatan-bulatan yang semakin lama membesar serta ujung hifa yang meruncing karena nekrosis karena terjadi kematian. Pengujian metabolit sekunder yang berupa enzim kitinase, didapatkan hasil bahwa metabolit tersebut mengandung enzim kitinase dan terbukti adanya aktivitas kitinase dengan terjadinya penguranga jumlah khitin yang ada.

Berdasarkan uraian diatas, amak dapat diambil kesimpulan bahwa metabolit sekunder Trichoderma sp. memiliki potensi guna menghambat pertum-buhan Fusarium oxysporum, metabolit intraselluler dengan konsentrasi 800 mg sangat efektif untuk menghambat F. oxysporum dan mekanisme penghambatan dilakukan secara mikoparasit.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationD
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id