Print ...

Contributor...

  • , Editor:

Path: Top

Ta’lik talak Sebagai Alasan Perceraian Menurut Hukum Islam dan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974(Studi diPengadilan Agama Kraksan Kab. Probolinggo)

Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2012-06-30 07:36:56
By : Dony Agus Wibowo (9 6 4 0 0 0 6 1), Dept. of Law
Created : 2002-10-26, with 1 files

Keyword : Ta’lik talak, Alasan Perceraian

Dalam pembagian lapangan – lapangan Hukum Isam perkawinan adalah termasuk dalam “ lapangan muamalat yaitu lapangan yang mengatur hubungan antara manusia yang ada/dalam kehidupan di dunia ini.

Demikian maksud dari perkawinan adalah …..arti yang sejati menurut Hukum Islam dengan singkat dimaksudkan untuk kemaslahatan masyarakat. Hukum perkawinan secara umum menurut ahli sunnah wal jama’ah adalah sunnah, yaitu sangat dianjurkan, guna memenuhi sabda nabi Muhammad SAW, yang maksudnya : nikah adalah sunnah-ku, siapa yang tidak mengerjakan sunnah-ku bukanlah pengikutku yang baik. Dan firman Allah yang berisi perintah untuk melakukan perkawinan adalah Surat An-Nisa ayat 3, surat An-Nuur ayat 32, surat Ar-Ruum ayat 21.

Dengan di undangkannya Undang-Undang no. 1 tahun 1974 yaitu pada tanggal 2 Januari 1974, maka berlakulah Undang-Undang perkawinan yang baru. Dan bunyi dari pasal 2 ayat 1 UU.No. 1 tahun 1974 adalah “perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal abadi berdasar kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tetapi kadang suami istri yang telah membina rumah tangga yang rukun dan tentram terpaksa harus melakukan suatu perceraian karena timbul keadaan-keadaan atau hal yang dirasakan oleh suami istri sebagai suatu sebab sehingga hidup sebagai suami istri sudah tidak dimungkinkan lagi untuk diteruskan. Menurut pandangan hukum islam, perceraian merupakan tindakan preventif (pencegahan) terhadap gangguan ketentraman dalam suatu rumah tangga.

Putusnya suatu perkawinan menurut Hukum Islam dapat terjadi karena ; talak, Khufu, Zhiqot, fasach, Il’a, Zhihar, Li’an, Kematian, pelanggaran Ta’lik talak.

Dari sembilan alasan tersebut diatas maka, penulis akan menitik beratkan pada masalah putusnya perkawinan yang disebabkan karena suami telah melanggar Ta’lik talak. Dalam Hukum Islam apabila kejadian diatas diperjanjikan dahulu sesudah akad nikah, maka putusnya perkawinan seperti diatas adalah pelanggaran Ta’lik talak.

Tapi dalam kenyataannya masyarakat Islam hanya mengenal perceraian karena talak yang dijatuhkan oleh suami dan hal ini dilakukan dengan cara yang mudah, sebaliknya dalam seorang istri yang terpaksa bercerai dengan suaminya tidaklah mudah, semudah yang dapat dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, penulis sangat tertarik guna meneliti dan membahas apa yang menjadi kriteria untuk menentukan unsur-unsur yang terdapat dalam ta’lik talak terpenuhi dan faktor-faktor apa yang menunjang suatu perceraian dengan alasan ta’lik talak tersebut.

Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis adalah; untuk memenuhi dan melengkapi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Kesarjanaan di bidang Ilmu Hukum di Universitas Muhammadiyah Malang, dan untuk memperdalam ilmu pengetahuan khususnya mengenai ta’lik talak yang dipakai sebagai alasan perceraian menurut Hukum Islam.

Setelah penelitian penulis lakukan , penulis akan menganalisa data tersebut dengan menggunakan metode Diskriptif, yaitu dengan menggambarkan atau melukiskan segala fakta aktual yang dihadapi baik melalui penelitian lapangan maupun kepustakaan kemudian dianalisis serta ditarik suatu kesimpulan.

Demikian dari hasil penyusunan karya ilmiah yang telah penulis susun ini dapat diharapkan dapat bermanfaat baik bagi kalangan akademik khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dan umumnya bagi masyarakat luas yang membutuhkan penjelasan mengenai pelaksanaan perceraian di Pengadilan Agama.

Description Alternative :

Dalam pembagian lapangan – lapangan Hukum Isam perkawinan adalah termasuk dalam “ lapangan muamalat yaitu lapangan yang mengatur hubungan antara manusia yang ada/dalam kehidupan di dunia ini.

Demikian maksud dari perkawinan adalah …..arti yang sejati menurut Hukum Islam dengan singkat dimaksudkan untuk kemaslahatan masyarakat. Hukum perkawinan secara umum menurut ahli sunnah wal jama’ah adalah sunnah, yaitu sangat dianjurkan, guna memenuhi sabda nabi Muhammad SAW, yang maksudnya : nikah adalah sunnah-ku, siapa yang tidak mengerjakan sunnah-ku bukanlah pengikutku yang baik. Dan firman Allah yang berisi perintah untuk melakukan perkawinan adalah Surat An-Nisa ayat 3, surat An-Nuur ayat 32, surat Ar-Ruum ayat 21.

Dengan di undangkannya Undang-Undang no. 1 tahun 1974 yaitu pada tanggal 2 Januari 1974, maka berlakulah Undang-Undang perkawinan yang baru. Dan bunyi dari pasal 2 ayat 1 UU.No. 1 tahun 1974 adalah “perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal abadi berdasar kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tetapi kadang suami istri yang telah membina rumah tangga yang rukun dan tentram terpaksa harus melakukan suatu perceraian karena timbul keadaan-keadaan atau hal yang dirasakan oleh suami istri sebagai suatu sebab sehingga hidup sebagai suami istri sudah tidak dimungkinkan lagi untuk diteruskan. Menurut pandangan hukum islam, perceraian merupakan tindakan preventif (pencegahan) terhadap gangguan ketentraman dalam suatu rumah tangga.

Putusnya suatu perkawinan menurut Hukum Islam dapat terjadi karena ; talak, Khufu, Zhiqot, fasach, Il’a, Zhihar, Li’an, Kematian, pelanggaran Ta’lik talak.

Dari sembilan alasan tersebut diatas maka, penulis akan menitik beratkan pada masalah putusnya perkawinan yang disebabkan karena suami telah melanggar Ta’lik talak. Dalam Hukum Islam apabila kejadian diatas diperjanjikan dahulu sesudah akad nikah, maka putusnya perkawinan seperti diatas adalah pelanggaran Ta’lik talak.

Tapi dalam kenyataannya masyarakat Islam hanya mengenal perceraian karena talak yang dijatuhkan oleh suami dan hal ini dilakukan dengan cara yang mudah, sebaliknya dalam seorang istri yang terpaksa bercerai dengan suaminya tidaklah mudah, semudah yang dapat dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, penulis sangat tertarik guna meneliti dan membahas apa yang menjadi kriteria untuk menentukan unsur-unsur yang terdapat dalam ta’lik talak terpenuhi dan faktor-faktor apa yang menunjang suatu perceraian dengan alasan ta’lik talak tersebut.

Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis adalah; untuk memenuhi dan melengkapi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Kesarjanaan di bidang Ilmu Hukum di Universitas Muhammadiyah Malang, dan untuk memperdalam ilmu pengetahuan khususnya mengenai ta’lik talak yang dipakai sebagai alasan perceraian menurut Hukum Islam.

Setelah penelitian penulis lakukan , penulis akan menganalisa data tersebut dengan menggunakan metode Diskriptif, yaitu dengan menggambarkan atau melukiskan segala fakta aktual yang dihadapi baik melalui penelitian lapangan maupun kepustakaan kemudian dianalisis serta ditarik suatu kesimpulan.

Demikian dari hasil penyusunan karya ilmiah yang telah penulis susun ini dapat diharapkan dapat bermanfaat baik bagi kalangan akademik khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dan umumnya bagi masyarakat luas yang membutuhkan penjelasan mengenai pelaksanaan perceraian di Pengadilan Agama.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationD
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id