Print ...

Contributor...

  • , Editor:

Path: Top

Humanisasi Pendidikan dalam Perspektif Islam (Telaah atas Pemikiran Abdul Munir Mulkhan)

Undergraduate Theses from JBPTUNIKOMPP / 2012-06-30 07:36:38
By : Khilmi Arif (96110014), Dept. of Tarbiyah
Created : 2002-07-23, with 1 files

Keyword : humanisasi, pendidikan humanistik, paradigma pendidikan, demokratisasi, pendidikan, pendidikan ,Islam

Pendidikan tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) kepada peserta didik, tetapi lebih dari itu, yakni mentransfer nilai (transfer of value). Selain itu, pendidikan juga merupakan kerja budaya yang menuntut peserta didik untuk selalu mengembangkan potensi dan daya kreativitas yang dimilikinya agar tetap survive dalam hidupnya. Karena itu, daya kritis dan partisipatif harus selalu muncul dalam jiwa peserta didik. Anehnya, pendidikan yang telah lama berjalan tidak menunjukkan hal yang diinginkan. Justru pendidikan hanya dijadikan alat indoktrinasi berbagai kepentingan. Hal inilah yang sebenarnya merupakan akar dehumanisasi.

Agar pendidikan mampu merealisasikan cita-citanya, maka diperlukan sebuah konsep atau kerangka pendidikan yang mampu mengembangkan potensi yang dimiliki manusia. Konsep tersebut adalah humanisasi pendidikan.

Abdul Munir Mulkhan sebagai sosok yang humanis, yang senantiasa melontarkan gagasannya dengan berdasarkan pada kemanusiaan, akan menjadi kajian sentral dalam penelitian ini. Dalam beberapa tulisan yang telah dipublikasikan, ia menyoroti fenomena pendidikan dewasa ini, menurutnya pendidikan yang didasarkan pada pola keseragaman adalah pada dasarnya tidak menghargai keunikan anak manusia. Keunikan seseorang atau sekelompok manusia dipandang sebagai suatu keanehan dan bahkan keburukan yang harus dihindari.

Di lain sisi, dalam pandangan Mulkhan, sentralisasi pendidikan yang terjadi selama ini, menciptakan kesadaran atas nilai modernitas tentang keseragaman dan tidak berharganya keunikan manusia dan anak didik. Hal ini menyebabkan manusia kehilangan jati dirinya dan kepekaan sosialnya menjadi tumpul. Profesionalisme dan mutu keunggulan kemanusiaan lebih terkonsentrasi pada pusat kekuasaan, yang menempatkan dan menjadikannya sebagai alat politik dan kebudayaan, bukan praktek politik dan kebudayaan itu sendiri.

Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengungkap lebih lanjut konsep pendidikan yang digagas oleh Mulkhan terutama dalam kaitannya dengan humanisasi pendidikan. Ada dua hal yang dapat diajukan sebagai pokok permasalahannya. Pertama adalah bagaimana konsep humanisasi pendidikan menurut Mulkhan? Dan kedua adalah bagaimana kerangka yang digunakan Mulkhan dalam mencapai konsep humanisasi pendidikan itu? Dengan demikian tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menjawab dua persoalan yang telah diungkap di atas.

Adapun penelitian ini bersifat penelitian pustaka (library research) yang terfokus pada studi pemikiran (tokoh). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis kritis. Metode ini sangat penting digunakan untuk tidak sekedar mendeskripsikan tema sentral, tetapi juga menganalisa lebih jauh dan mencoba membandingkan dengan gagasan para tokoh pendidikan lainnya. Ini dilakukan agar peneliti dapat melihat kelebihan dan sekaligus kekurangan dari tokoh yang dikaji. Karena itu dalam analisa data, peneliti mengawali dengan mendeskripsikan kemudian menganalisa dan mengkritik gagasan utama.

Dari penelitian yang dilakukan, peneliti menemukan beberapa pokok pemikiran pendidikan Mulkhan, yang sekaligus merupakan jawaban dari persoalan yang diajukan. Pertama, humanisasi pendidikan berakar dari keunikan personalitas anak manusia. Kebijakan yang sentralisitk, yang mengabaikan personalitas kemanusiaan dan bentuk penyeragaman, serta metode pendidikan yang tidak memberikan peluang terhadap tumbuh dan berkembangnya potensi manusia merupakan akar dari dehumanisasi.

Kedua, humanisasi pendidikan dapat dijalankan dengan bentuk demokratisasi pendidikan. Demokratisasi pendidikan menjadi syarat mutlak bagi terbentuknya suasana dialogis dan humanis. Di dalam proses belajar mengajar dijalankan dengan penuh keterbukaan, peserta mendapat kesempatan penuh untuk mengekspresikan dirinya. Begitu juga hubungan antara guru dan siswa. Hubungan itu dibangun atas kemitraan, bukan sebagai atasan dan bawahan, melainkan merupakan partner dalam mengantarkan proses belajar mengajar untuk menemukan kesadaran hidup.

Description Alternative :

Pendidikan tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) kepada peserta didik, tetapi lebih dari itu, yakni mentransfer nilai (transfer of value). Selain itu, pendidikan juga merupakan kerja budaya yang menuntut peserta didik untuk selalu mengembangkan potensi dan daya kreativitas yang dimilikinya agar tetap survive dalam hidupnya. Karena itu, daya kritis dan partisipatif harus selalu muncul dalam jiwa peserta didik. Anehnya, pendidikan yang telah lama berjalan tidak menunjukkan hal yang diinginkan. Justru pendidikan hanya dijadikan alat indoktrinasi berbagai kepentingan. Hal inilah yang sebenarnya merupakan akar dehumanisasi.

Agar pendidikan mampu merealisasikan cita-citanya, maka diperlukan sebuah konsep atau kerangka pendidikan yang mampu mengembangkan potensi yang dimiliki manusia. Konsep tersebut adalah humanisasi pendidikan.

Abdul Munir Mulkhan sebagai sosok yang humanis, yang senantiasa melontarkan gagasannya dengan berdasarkan pada kemanusiaan, akan menjadi kajian sentral dalam penelitian ini. Dalam beberapa tulisan yang telah dipublikasikan, ia menyoroti fenomena pendidikan dewasa ini, menurutnya pendidikan yang didasarkan pada pola keseragaman adalah pada dasarnya tidak menghargai keunikan anak manusia. Keunikan seseorang atau sekelompok manusia dipandang sebagai suatu keanehan dan bahkan keburukan yang harus dihindari.

Di lain sisi, dalam pandangan Mulkhan, sentralisasi pendidikan yang terjadi selama ini, menciptakan kesadaran atas nilai modernitas tentang keseragaman dan tidak berharganya keunikan manusia dan anak didik. Hal ini menyebabkan manusia kehilangan jati dirinya dan kepekaan sosialnya menjadi tumpul. Profesionalisme dan mutu keunggulan kemanusiaan lebih terkonsentrasi pada pusat kekuasaan, yang menempatkan dan menjadikannya sebagai alat politik dan kebudayaan, bukan praktek politik dan kebudayaan itu sendiri.

Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengungkap lebih lanjut konsep pendidikan yang digagas oleh Mulkhan terutama dalam kaitannya dengan humanisasi pendidikan. Ada dua hal yang dapat diajukan sebagai pokok permasalahannya. Pertama adalah bagaimana konsep humanisasi pendidikan menurut Mulkhan? Dan kedua adalah bagaimana kerangka yang digunakan Mulkhan dalam mencapai konsep humanisasi pendidikan itu? Dengan demikian tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menjawab dua persoalan yang telah diungkap di atas.

Adapun penelitian ini bersifat penelitian pustaka (library research) yang terfokus pada studi pemikiran (tokoh). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis kritis. Metode ini sangat penting digunakan untuk tidak sekedar mendeskripsikan tema sentral, tetapi juga menganalisa lebih jauh dan mencoba membandingkan dengan gagasan para tokoh pendidikan lainnya. Ini dilakukan agar peneliti dapat melihat kelebihan dan sekaligus kekurangan dari tokoh yang dikaji. Karena itu dalam analisa data, peneliti mengawali dengan mendeskripsikan kemudian menganalisa dan mengkritik gagasan utama.

Dari penelitian yang dilakukan, peneliti menemukan beberapa pokok pemikiran pendidikan Mulkhan, yang sekaligus merupakan jawaban dari persoalan yang diajukan. Pertama, humanisasi pendidikan berakar dari keunikan personalitas anak manusia. Kebijakan yang sentralisitk, yang mengabaikan personalitas kemanusiaan dan bentuk penyeragaman, serta metode pendidikan yang tidak memberikan peluang terhadap tumbuh dan berkembangnya potensi manusia merupakan akar dari dehumanisasi.

Kedua, humanisasi pendidikan dapat dijalankan dengan bentuk demokratisasi pendidikan. Demokratisasi pendidikan menjadi syarat mutlak bagi terbentuknya suasana dialogis dan humanis. Di dalam proses belajar mengajar dijalankan dengan penuh keterbukaan, peserta mendapat kesempatan penuh untuk mengekspresikan dirinya. Begitu juga hubungan antara guru dan siswa. Hubungan itu dibangun atas kemitraan, bukan sebagai atasan dan bawahan, melainkan merupakan partner dalam mengantarkan proses belajar mengajar untuk menemukan kesadaran hidup.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationD
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id