Print ...

Contributor...

  • Editor: infopus@jiptumm

Path: Top

PERBANDINGAN BIAYA, PENDAPATAN DAN EFISIENSI USAHATANI PADA DUA POLA TANAM (Studi Kasus di Desa Bades, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang)

Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2003-01-14 10:53:00
By : MOKHAMAD ALI ABIDIN (98720019), Dept. of Agribusiness
Created : 2002-12-20, with 1 files

Keyword : BIAYA, PENDAPATAN, EFISIENSI USAHATANI, MOKHAMAD

Diversifikasi yaitu pengaturan pola tanam yang bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi petani, maka banyak petani yang melakukan pengaturan pola tanamnya. Dimana sebelumnya para petani yang mayoritas rendah pendidikannya hanya melakukan pola tanam monoton yaitu padi, padi, dan padi lagi sekarang mulai berubah dengan menanam tanaman sayuran yaitu cabe merah, sehingga pola tanamnya berubah menjadi padi- cabe merah. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pendapatannya.

Akhir-akhir ini dijumpai ada petani yang mengembangkan pola tanam baru, yaitu cabe merah, setelah cabe habis masa produksinya petani tersebut langsung menanami kembali dengan tanaman mentimun, hal itu dilakukan tanpa pengolahan tanah lagi. Setelah masa produksi mentimun habis petani tersebut menanami kembali dengan kacang panjang, sama juga dengan alih tanaman yang pertama, alih tanaman yang keduapun tanpa dilakukan dengan pengolahan tanah terlebih dahulu. Pola tanam tersebut dimaksudkan untuk efisiensi, baik efisiensi waktu, efisiensi tenaga dan efisiensi penggunaan lahan.

Permasalahan :

1. Bagaimana perbandingan penggunaan saprodi usahatani pola tanam cabe merah – padi dengan pola tanam cabe merah - mentimun - kacang panjang?

2. Bagaimana perbandingan biaya total usahatani pola tanam cabe merah-padi dengan pola tanam cabe merah-mentimun-kacang panjang ?

3. Bagaimana perbandingan penerimaan, pendapatan dan efisiensi usahatani dengan pola tanam cabe merah-padi dengan pola tanam cabe merah-mentimun-kacang panjang ?

4. Bagaimana keunggulan dan kelamahan pola tanam cabe merah-padi dan pola tanam cabe merah-mentimun-kacang panjang ?

Penelitian ini bertujuan:

1. Untuk mengetahui perbandingan penggunaan saprodi usahatani pola tanam cabe merah – padi dengan pola tanam cabe merah - mentimun - kacang panjang.

2. Untuk mengetahui perbandingan biaya total usahatani pada pola tanam cabe merah-padi dengan cabe merah-mentimun-kacang panjang.

3. Untuk mengetahui perbandingan penerimaan, pendapatan dan efisiensi usahatani pada pola tanam cabe merah-padi dengan cabe merah-mentimun-kacang panjang.

4. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan pola tanam cabe merah-padi dan cabe merah-mentimun-kacang panjang.

Bertitik tolak dari latar belakang dan tujuan disusun hipotesa :

1. Diduga penggunaan saprodi pada pola tanam cabe merah – padi lebih besar daripada penggunaan saprodi pada pola tanam cabe merah – mentimun – kacang panjang.

2. Diduga biaya total usahatani pada pola tanam cabe merah – padi lebih tinggi daripada biaya pada pola tanam cabe merah – mentimun – kacang panjang.

3. Diduga penerimaan, pendapatan dan efisiensi usahatani pada pola tanam cabe merah – mentimun – kacang panjang lebih tinggi daripada pendapatan dan efisiensi pada pola tanam cabe merah – padi.

Penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu di Desa Bades, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling yaitu pengambilan sample secara kebetulan (accidental), karena jumlah populasi tidak diketahui. Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder.

Analisa data yang dipakai adalah analisa biaya, analisa penerimaan, analisa pendapatan dan analisa efisiensi uasahatani menggunakan R/C rasio. Untuk menjawab hipotesa digunakan uji beda satu arah dengan bantuan komputer dengan program SPSS.

Benih cabe merah rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 15,6 pack, dengan nilai Rp. 1.030.555,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 13 pack dengan nilai Rp. 850.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 1,341 dan t tabel sebesar1,833, maka Ho diterima yang berarti rata-rata penggunaan cabe merah pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan bibit cabe merah pada pola tanam (B).

Pupuk ZA rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 85,19 Kg, dengan nilai Rp. 155.370,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 270 Kg dengan nilai Rp. 270.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 2,735 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk ZA pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk ZA pada pola tanam (B).

Pupuk NPK rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 364,81 Kg, dengan nilai Rp. 1.094.444,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 405 Kg dengan nilai Rp. 1.215.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 0,619 dan ttabel sebesar 1,833, maka Ho diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk NPK pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk NPK pada pola tanam (B).

Pupuk TSP/SP36 rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 245,37 Kg, dengan nilai Rp. 368.055,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 300 Kg dengan nilai Rp. 450.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 0,467 dan ttabel sebesar 1,833, maka Ho diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk TSP/SP36 pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk TSP/SP36 pada pola tanam (B).

Pupuk KCl rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 144,4 Kg, dengan nilai Rp. 231.111,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 250 Kg dengan nilai Rp. 400.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 1,261 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk KCl pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk KCl pada pola tanam (B).

Pupuk Urea rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 550 Kg, dengan nilai Rp. 605.000,- dan pada pola tanam (B) sebesar 130 Kg dengan nilai Rp. 143.000,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 2,907 dan ttabel sebesar 1,833, maka H1 diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk Urea pada pola tanam (A) lebih besar dengan rata-rata penggunaan pupuk Urea pada pola tanam (B).

Pupuk kandang rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 96,75zak, dengan nilai Rp. 96.759,- dan pada pola tanam (B) sebesar 135zak dengan nilai Rp. 135.000,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 0,638 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk kandang pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk kandang pada pola tanam (B).

Biaya untuk pestisida rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 1.459.546,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 1.537.000,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 0,113 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dari rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (B).

Biaya untuk tenaga kerja rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 5.164.759,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 7.887.000,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 4,378 dan t tabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan biaya untuk tenaga kerja pada pola tanam (A) lebih kecil dari rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (B).

Total biaya produksi rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 15.379.190,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 19.091.250,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 2,353 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (A) lebih kecil dibanding rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (B).

Penerimaan rata-rata yang diperoleh petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 22.484.526,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 48.004.350,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 3,827 dan ttabel sebesar 1,833, maka H1 diterima yang berarti rata-rata penerimaan pada pola tanam (B) lebih besar dibanding rata-rata penerimaan pada pola tanam (A).

Pendapatan rata-rata yang diperoleh petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 7.105.336,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 28.913.100,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 3,949 dan ttabel sebesar 1,833, maka H1 diterima yang berarti rata-rata pendapatan pada pola tanam (B) lebih besar dibanding rata-rata pendapatan pada pola tanam (A).

R/C rasio rata-rata yang diperoleh petani pada pola tanam (A) sebesar 1,445 dan pada pola tanam (B) sebesar 2,492 perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 3,607 dan t tabel sebesar 1,833, maka H1 diterima yang berarti rata-rata R/C rasio pada pola tanam (B) lebih besar dibanding rata-rata R/C rasio pada pola tanam (A).

Kesimpulan dari penelitian ini adalah biaya total, penerimaan, pendapatan dan efisiensi pola tanam (B) lebih besar daripada biaya total, penerimaan, pendapatan dan efisiensi pola tanam (A). Secara umum kedua pola tanam tersebut menguntungkan serta efisien.

Description Alternative :

Diversifikasi yaitu pengaturan pola tanam yang bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi petani, maka banyak petani yang melakukan pengaturan pola tanamnya. Dimana sebelumnya para petani yang mayoritas rendah pendidikannya hanya melakukan pola tanam monoton yaitu padi, padi, dan padi lagi sekarang mulai berubah dengan menanam tanaman sayuran yaitu cabe merah, sehingga pola tanamnya berubah menjadi padi- cabe merah. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pendapatannya.

Akhir-akhir ini dijumpai ada petani yang mengembangkan pola tanam baru, yaitu cabe merah, setelah cabe habis masa produksinya petani tersebut langsung menanami kembali dengan tanaman mentimun, hal itu dilakukan tanpa pengolahan tanah lagi. Setelah masa produksi mentimun habis petani tersebut menanami kembali dengan kacang panjang, sama juga dengan alih tanaman yang pertama, alih tanaman yang keduapun tanpa dilakukan dengan pengolahan tanah terlebih dahulu. Pola tanam tersebut dimaksudkan untuk efisiensi, baik efisiensi waktu, efisiensi tenaga dan efisiensi penggunaan lahan.

Permasalahan :

1. Bagaimana perbandingan penggunaan saprodi usahatani pola tanam cabe merah – padi dengan pola tanam cabe merah - mentimun - kacang panjang?

2. Bagaimana perbandingan biaya total usahatani pola tanam cabe merah-padi dengan pola tanam cabe merah-mentimun-kacang panjang ?

3. Bagaimana perbandingan penerimaan, pendapatan dan efisiensi usahatani dengan pola tanam cabe merah-padi dengan pola tanam cabe merah-mentimun-kacang panjang ?

4. Bagaimana keunggulan dan kelamahan pola tanam cabe merah-padi dan pola tanam cabe merah-mentimun-kacang panjang ?

Penelitian ini bertujuan:

1. Untuk mengetahui perbandingan penggunaan saprodi usahatani pola tanam cabe merah – padi dengan pola tanam cabe merah - mentimun - kacang panjang.

2. Untuk mengetahui perbandingan biaya total usahatani pada pola tanam cabe merah-padi dengan cabe merah-mentimun-kacang panjang.

3. Untuk mengetahui perbandingan penerimaan, pendapatan dan efisiensi usahatani pada pola tanam cabe merah-padi dengan cabe merah-mentimun-kacang panjang.

4. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan pola tanam cabe merah-padi dan cabe merah-mentimun-kacang panjang.

Bertitik tolak dari latar belakang dan tujuan disusun hipotesa :

1. Diduga penggunaan saprodi pada pola tanam cabe merah – padi lebih besar daripada penggunaan saprodi pada pola tanam cabe merah – mentimun – kacang panjang.

2. Diduga biaya total usahatani pada pola tanam cabe merah – padi lebih tinggi daripada biaya pada pola tanam cabe merah – mentimun – kacang panjang.

3. Diduga penerimaan, pendapatan dan efisiensi usahatani pada pola tanam cabe merah – mentimun – kacang panjang lebih tinggi daripada pendapatan dan efisiensi pada pola tanam cabe merah – padi.

Penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu di Desa Bades, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling yaitu pengambilan sample secara kebetulan (accidental), karena jumlah populasi tidak diketahui. Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder.

Analisa data yang dipakai adalah analisa biaya, analisa penerimaan, analisa pendapatan dan analisa efisiensi uasahatani menggunakan R/C rasio. Untuk menjawab hipotesa digunakan uji beda satu arah dengan bantuan komputer dengan program SPSS.

Benih cabe merah rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 15,6 pack, dengan nilai Rp. 1.030.555,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 13 pack dengan nilai Rp. 850.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 1,341 dan t tabel sebesar1,833, maka Ho diterima yang berarti rata-rata penggunaan cabe merah pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan bibit cabe merah pada pola tanam (B).

Pupuk ZA rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 85,19 Kg, dengan nilai Rp. 155.370,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 270 Kg dengan nilai Rp. 270.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 2,735 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk ZA pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk ZA pada pola tanam (B).

Pupuk NPK rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 364,81 Kg, dengan nilai Rp. 1.094.444,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 405 Kg dengan nilai Rp. 1.215.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 0,619 dan ttabel sebesar 1,833, maka Ho diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk NPK pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk NPK pada pola tanam (B).

Pupuk TSP/SP36 rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 245,37 Kg, dengan nilai Rp. 368.055,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 300 Kg dengan nilai Rp. 450.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 0,467 dan ttabel sebesar 1,833, maka Ho diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk TSP/SP36 pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk TSP/SP36 pada pola tanam (B).

Pupuk KCl rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 144,4 Kg, dengan nilai Rp. 231.111,- dan untuk pola tanam (B) sebesar 250 Kg dengan nilai Rp. 400.000,- per hektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 1,261 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk KCl pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk KCl pada pola tanam (B).

Pupuk Urea rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 550 Kg, dengan nilai Rp. 605.000,- dan pada pola tanam (B) sebesar 130 Kg dengan nilai Rp. 143.000,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 2,907 dan ttabel sebesar 1,833, maka H1 diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk Urea pada pola tanam (A) lebih besar dengan rata-rata penggunaan pupuk Urea pada pola tanam (B).

Pupuk kandang rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar 96,75zak, dengan nilai Rp. 96.759,- dan pada pola tanam (B) sebesar 135zak dengan nilai Rp. 135.000,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 0,638 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan pupuk kandang pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dengan rata-rata penggunaan pupuk kandang pada pola tanam (B).

Biaya untuk pestisida rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 1.459.546,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 1.537.000,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 0,113 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (A) lebih kecil atau sama dengan dari rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (B).

Biaya untuk tenaga kerja rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 5.164.759,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 7.887.000,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 4,378 dan t tabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan biaya untuk tenaga kerja pada pola tanam (A) lebih kecil dari rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (B).

Total biaya produksi rata-rata yang digunakan petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 15.379.190,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 19.091.250,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 2,353 dan ttabel sebesar 1,833, maka H0 diterima yang berarti rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (A) lebih kecil dibanding rata-rata penggunaan biaya untuk pestisida pada pola tanam (B).

Penerimaan rata-rata yang diperoleh petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 22.484.526,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 48.004.350,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 3,827 dan ttabel sebesar 1,833, maka H1 diterima yang berarti rata-rata penerimaan pada pola tanam (B) lebih besar dibanding rata-rata penerimaan pada pola tanam (A).

Pendapatan rata-rata yang diperoleh petani pada pola tanam (A) sebesar Rp. 7.105.336,- dan pada pola tanam (B) sebesar Rp. 28.913.100,- perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 3,949 dan ttabel sebesar 1,833, maka H1 diterima yang berarti rata-rata pendapatan pada pola tanam (B) lebih besar dibanding rata-rata pendapatan pada pola tanam (A).

R/C rasio rata-rata yang diperoleh petani pada pola tanam (A) sebesar 1,445 dan pada pola tanam (B) sebesar 2,492 perhektar. Dari hasil perhitungan statistik menggunakan uji t test pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung sebesar 3,607 dan t tabel sebesar 1,833, maka H1 diterima yang berarti rata-rata R/C rasio pada pola tanam (B) lebih besar dibanding rata-rata R/C rasio pada pola tanam (A).

Kesimpulan dari penelitian ini adalah biaya total, penerimaan, pendapatan dan efisiensi pola tanam (B) lebih besar daripada biaya total, penerimaan, pendapatan dan efisiensi pola tanam (A). Secara umum kedua pola tanam tersebut menguntungkan serta efisien.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJIPTUMM
OrganizationD
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id