Print ...

Contributor...

  • Editor: infopus@jiptumm

Path: Top

Pengaruh Program Play Group “Al-Fath” Kediri Terhadap Ketrampilan Berkomunikasi Anak

Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-12-21 12:34:00
By : SEPTI IRAWATI (95220080), Dept. of Communication Science
Created : 2002-10-25, with 1 files

Keyword : Pengaruh, Play Group, Berkomunikasi, SEPTI

Ketrampilan komunikasi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Pada usia pra sekolah, anak memerlukan suatu lingkungan yang mampu menstimuli ketrampilan komunikasinya. Play Group sebagai salah satu lembaga pendidikan formal non sekolah berperan penting dalam meningkatkan kemampuan ketrampilan komunikasi anak melalui program-program yang dirancangnya. Tingkat keterlibatan siswa terhadap program-program yang ada pada play group secara teoritis memiliki pengaruh terhadap kemampuan ketrampilan komunikasi anak. Dari latar belakang tersebut, peneliti tertarik meneliti ada atau tidaknya pengaruh antara keterlibatan siswa dalam program play group terhadap ketrampilan komunikasi anak.

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini meliputi, Pertama, Seberapakah keterlibatan anak-anak dalam program Play Group “Al-Fath” Kediri. Kedua, Seberapakah ketrampilan komunikasi anak-anak Play Group “Al-Fath “ Kediri, dan Ketiga, Adakah pengaruh keterlibatan program play group “Al-Fath” terhadap ketrampilan komunikasi anak.

Tujuan penelitian dari penelitian ini adalah, Pertama, untuk mengetahui seberapa keterlibatan anak dalam program play group “Al-Fath” Kediri. Kedua, untuk mengetahui ketrampilan komunikasi anak-anak Play Group “Al-Fath” Kediri. Ketiga, untuk mengetahui pengaruh keterlibatan program Play Group “Al-Fath” terhadap ketrampilan komunikasi anak.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Stewart L. Tubb dan Sylvia Moss yang menyatakan bahwa sifat komunikasi anak secara umum ada 2 macam: Pertama, Komunikasi Egosentris. Artinya, anak selalu berbahasa dengan bahasa yang selalu membuat pernyataan, bahkan perdebatan, alih-alih memberi alasan pernyataannya. Anak tersebut hampir tidak pernah bertanya pada dirinya, apakah ucapannya dimengerti. Baginya semua itu sudah jelas, karena ia sama sekali tidak memikirkan orang lain ketika ia berbicara. Kedua, Komunikasi Sosiosentrik. Artinya meliputi penyajian informasi kepada penerima dan dalam beberapa hal cara pandang penerima, ini lebih melibatkan penyandian sosial daripada penyandian nonsosial. Adapun dalam pola belajar berbicara, biasanya terdapat empat bentuk prabicara, yaitu menangis, berceloteh, isyarat, dan pengungkapan emosi.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey. Populasinya adalah semua siswa Play Group “Al-Fath” Kediri yang berjumlah 40 siswa. Teknik pengambilan sampelnya adalah menggunakan total sampling. Teknik pengumpulan datanya meliputi observasi, kuesioner, dokumentasi dan interview. Teknik analisa data dihitung dengan analisis kuantitatif yaitu menggunakan rumus korelasi dan regresi.

Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Tingkat keterlibatan siswa dan siswi dalam program Play Group “Al-Fath” Kediri masuk dalam katagori sedang, artinya kemampuan siswa merespon dan menangkap apa yang diujikan dan atau diberikan oleh guru, tidak terlalu cepat dan tepat (sangat aktif/aktif) tetapi juga bukannya tidak bisa sama sekali. Pada prinsipnya anak didik dalam katagori ini tetap mampu menangkap dan merespon apa yang diujikan dan atau diajarkan tetapi kemampuan memberikan umpan balik dan reaksi psikomotoriknya tidak terlalu cepat tetapi juga tidak terlalu lambat, atau dengan kata lain daya reaksi dan umpan baliknya adalah sedang.

2. Tingkat ketrampilan Anak didik Play Group “Al-Fath Kediri”, setelah diuji oleh peneliti dengan mengajukan angket yang pada prinsipnya disamakan dengan program play group yang ada, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa kemampuan ketrampilan komunikasi anak didik termasuk dalam katagori sedang. Hal ini dapat diketahui dari uji statistik melalui rumus yang peneliti gunakan dalam penelitian ini. Secara lebih jelas telah peneliti jelaskan pada bab pengaruh antara keterlibatan siswa dalam program play group terhadap kemampuan ketrampilan komunikasi anak.

3. Pengaruh antara keterlibatan siswa dalam program play group dengan kemampuan ketrampilan komunikasi anak, dari hasil analisi yang peneliti lakukan adalah menghasilkan derajat pengaruh sedang. Artinya, siswa yang tingkat keterlibatan dalam program play group masuk dalam katagori sedang, ternyata ketrampilan komunikasinya-pun masuk dalam katagori sedang.

4. Terdapat program yang tingkat keterlibatan siswanya paling tinggi dan paling rendah. Program play group yang memiliki tingkat keterlibatan paling tinggi adalah program Al-Islam khususnya pada hafalan Syahadat yang mana terdapat 7 siswa memiliki tingkat keterlibatan sangat aktif dan 7 siswa memiliki tingkat aktif. Adapun program yang tingkat keterlibatannya paling rendah adalah program pengenalan kata tanya, dimana dari tiga katagori kata tanya yang diujikan terdapat 11 siswa yang memiliki tingkat keterlibatan sangat pasif (5 siswa) dan Pasif (6 siswa).

5. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan komunikasi anak adalah sesuai dengan teori komunikasi sosiosentris. Artinya, aanak-anak yang bersekolah di Play Group memiliki tingkat perkembangan dan ketrampilan komunikasi yang mengarah pada komunikasi sosiosentris yaitu komunikasi yang menempatkan lingkungan sekelilingnya sebagai referensi dan pertimbangan ketrampilan dan perkembangan komunikasinya.

Dari hasil penelitian tersebut bisa disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara tingkat keterlibatan siswa dengan kemampuan berkomunikasinya. Dalam penelitian ini derajat pengaruh antara keterlibatan terhadap kemampuan berkomunikasi siswa masuk dalam katagori sedang.

Description Alternative :

Ketrampilan komunikasi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Pada usia pra sekolah, anak memerlukan suatu lingkungan yang mampu menstimuli ketrampilan komunikasinya. Play Group sebagai salah satu lembaga pendidikan formal non sekolah berperan penting dalam meningkatkan kemampuan ketrampilan komunikasi anak melalui program-program yang dirancangnya. Tingkat keterlibatan siswa terhadap program-program yang ada pada play group secara teoritis memiliki pengaruh terhadap kemampuan ketrampilan komunikasi anak. Dari latar belakang tersebut, peneliti tertarik meneliti ada atau tidaknya pengaruh antara keterlibatan siswa dalam program play group terhadap ketrampilan komunikasi anak.

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini meliputi, Pertama, Seberapakah keterlibatan anak-anak dalam program Play Group “Al-Fath” Kediri. Kedua, Seberapakah ketrampilan komunikasi anak-anak Play Group “Al-Fath “ Kediri, dan Ketiga, Adakah pengaruh keterlibatan program play group “Al-Fath” terhadap ketrampilan komunikasi anak.

Tujuan penelitian dari penelitian ini adalah, Pertama, untuk mengetahui seberapa keterlibatan anak dalam program play group “Al-Fath” Kediri. Kedua, untuk mengetahui ketrampilan komunikasi anak-anak Play Group “Al-Fath” Kediri. Ketiga, untuk mengetahui pengaruh keterlibatan program Play Group “Al-Fath” terhadap ketrampilan komunikasi anak.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Stewart L. Tubb dan Sylvia Moss yang menyatakan bahwa sifat komunikasi anak secara umum ada 2 macam: Pertama, Komunikasi Egosentris. Artinya, anak selalu berbahasa dengan bahasa yang selalu membuat pernyataan, bahkan perdebatan, alih-alih memberi alasan pernyataannya. Anak tersebut hampir tidak pernah bertanya pada dirinya, apakah ucapannya dimengerti. Baginya semua itu sudah jelas, karena ia sama sekali tidak memikirkan orang lain ketika ia berbicara. Kedua, Komunikasi Sosiosentrik. Artinya meliputi penyajian informasi kepada penerima dan dalam beberapa hal cara pandang penerima, ini lebih melibatkan penyandian sosial daripada penyandian nonsosial. Adapun dalam pola belajar berbicara, biasanya terdapat empat bentuk prabicara, yaitu menangis, berceloteh, isyarat, dan pengungkapan emosi.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey. Populasinya adalah semua siswa Play Group “Al-Fath” Kediri yang berjumlah 40 siswa. Teknik pengambilan sampelnya adalah menggunakan total sampling. Teknik pengumpulan datanya meliputi observasi, kuesioner, dokumentasi dan interview. Teknik analisa data dihitung dengan analisis kuantitatif yaitu menggunakan rumus korelasi dan regresi.

Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Tingkat keterlibatan siswa dan siswi dalam program Play Group “Al-Fath” Kediri masuk dalam katagori sedang, artinya kemampuan siswa merespon dan menangkap apa yang diujikan dan atau diberikan oleh guru, tidak terlalu cepat dan tepat (sangat aktif/aktif) tetapi juga bukannya tidak bisa sama sekali. Pada prinsipnya anak didik dalam katagori ini tetap mampu menangkap dan merespon apa yang diujikan dan atau diajarkan tetapi kemampuan memberikan umpan balik dan reaksi psikomotoriknya tidak terlalu cepat tetapi juga tidak terlalu lambat, atau dengan kata lain daya reaksi dan umpan baliknya adalah sedang.

2. Tingkat ketrampilan Anak didik Play Group “Al-Fath Kediri”, setelah diuji oleh peneliti dengan mengajukan angket yang pada prinsipnya disamakan dengan program play group yang ada, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa kemampuan ketrampilan komunikasi anak didik termasuk dalam katagori sedang. Hal ini dapat diketahui dari uji statistik melalui rumus yang peneliti gunakan dalam penelitian ini. Secara lebih jelas telah peneliti jelaskan pada bab pengaruh antara keterlibatan siswa dalam program play group terhadap kemampuan ketrampilan komunikasi anak.

3. Pengaruh antara keterlibatan siswa dalam program play group dengan kemampuan ketrampilan komunikasi anak, dari hasil analisi yang peneliti lakukan adalah menghasilkan derajat pengaruh sedang. Artinya, siswa yang tingkat keterlibatan dalam program play group masuk dalam katagori sedang, ternyata ketrampilan komunikasinya-pun masuk dalam katagori sedang.

4. Terdapat program yang tingkat keterlibatan siswanya paling tinggi dan paling rendah. Program play group yang memiliki tingkat keterlibatan paling tinggi adalah program Al-Islam khususnya pada hafalan Syahadat yang mana terdapat 7 siswa memiliki tingkat keterlibatan sangat aktif dan 7 siswa memiliki tingkat aktif. Adapun program yang tingkat keterlibatannya paling rendah adalah program pengenalan kata tanya, dimana dari tiga katagori kata tanya yang diujikan terdapat 11 siswa yang memiliki tingkat keterlibatan sangat pasif (5 siswa) dan Pasif (6 siswa).

5. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan komunikasi anak adalah sesuai dengan teori komunikasi sosiosentris. Artinya, aanak-anak yang bersekolah di Play Group memiliki tingkat perkembangan dan ketrampilan komunikasi yang mengarah pada komunikasi sosiosentris yaitu komunikasi yang menempatkan lingkungan sekelilingnya sebagai referensi dan pertimbangan ketrampilan dan perkembangan komunikasinya.

Dari hasil penelitian tersebut bisa disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara tingkat keterlibatan siswa dengan kemampuan berkomunikasinya. Dalam penelitian ini derajat pengaruh antara keterlibatan terhadap kemampuan berkomunikasi siswa masuk dalam katagori sedang.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJIPTUMM
OrganizationD
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id