Print ...

Contributor...

  • Editor: infopus@jiptumm

Path: Top

ANALISA KOMPARATIF USAHATANI TUMPANGGILIR (PADI-PADI-MELON) DAN (PADI-PADI-KEDELAI) DILAHAN SAWAH (Studi di Desa Gelung Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi)

Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2003-01-24 04:09:00
By : WINARNI (98720079), Dept. of Agribusiness
Created : 2003-03-24, with 4 files

Keyword : padi-melon,dilahan sawah,winarni

Apabila kita dengan lebih seksama memperhatikan kondisi ekonomi petani pada umumnya yang masih rendah, dimana hal ini ditunjukkan dengan semakin sempitnya luas lahan yang diusahakan. Sehingga untuk meningkatkan hasil maka digunakan sistem Multiple Cropping, yang mana sistem ini adalah salah satu dari pola tanam yang dikembangkan dalam pemanfaatan lahan pertanian. Dengan sistem ini diharapkan akan diperoleh hasil persatuan luas lahan lebih tinggi dengan waktu sesingkat mungkin serta dapat dilaksanakan petani dengan lebih mudah. Dalam keadaam ekonomi petani yang masih rendah, petani cenderung untuk menghindari resiko kegagalan sebanyak mungkin. Oleh karena itu sistem tumpanggilir merupakan salah satu cara untuk mengurangi resiko kegagalan tersebut. Karena jika panen salah satu tanaman gagal dapat diimbangi dengan panen tanaman lainnya. Akan tetapi sebaliknya jika sistem tumpanggilir berhasil dapat mengurangi biaya produksi perjenis tanaman dan dapat menambah pendapatan petani.

Dua pola tanam usahatani tumpanggilir (P-P-M) dan usahatani tumpanggilir (P-P-K) di Desa Gelung, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi yaitu :

1. Padi – Padi – Melon (P-P-M)

2. Padi – Padi – Kedelai (P-P-K)

Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah ada perbedaan biaya, penerimaan, pendapatan dan efisiensi pada usahatani tumpanggilir (P-P-M) dan (P-P-K) dilahan sawah selama satu tahun ?

2. Alasan-alasan apa yang menjadi pertimbangan petani dalam menentukan pilihan untuk mengusahakan usahatani tumpanggilir (P-P-M) atau (P-P-K) ?

Sesuai dengan rumusan masalah , maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perbedaan biaya, penerimaan, pendapatan dan efisiensi usahatani tumpanggilir (P-P-M) dan (P-P-K) selama satu tahun.

2. Untuk mengetahui alasan petani dalam menentukan pilihan untuk mengusahakan usahatani tumpanggilir (P-P-M) atau (P-P-K).

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bahan informasi bagi petani tumpanggilir (P-P-M) dan (P-P-K) dalam mengambil keputusan yang ditujukan untuk meningkatkan pendapatan.

2. Bahan pelengkap informasi bagi pembuat kebijaksanaan dalam mengambil keputusan yang berguna untuk masyarakat serta informasi bagi peneliti selanjutnya.

Hipotesa dari penelitian ini adalah diduga biaya, penerimaan, pendapatan dan efisiensi pada usahatani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar daripada (P-P-K).

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan di desa Gelung, telah dikembangkan pola pertanian dengan sistem tumpanggilir (P-P-M) dan (P-P-K).

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode non proporsional stratified random sampling. Untuk usahatani tumpanggilir (P-P-M) diambil 100% dari 7 responden yaitu 7 petani. Untuk usahatani tumpanggilir (P-P-K) diambil 25% dari 160 responden yaitu 40 petani.

Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lokasi penelitian dan mengadakan wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan. Data sekunder diperoleh dari kantor Kepala Desa, Balai Penyuluhan dan sumber-sumber lainnya yang menunjang penulisan penelitian ini.

Total biaya produksi yang digunakan petani pada usahatani tumpanggilir (P-P-M) per hektar per tahun sebesar Rp 38.186.384,00 dan total biaya produksi pada usahatani tumpanggilir (P-P-K) sebesar Rp 12.204.033,00 per hektar per tahun. Hasil uji hipotesa dengan uji ttest pada taraf 95% didapatkan thitung sebesar 64,0770 dan ttabel = 1,671 atau H1 diterima yang berarti total biaya produksi usahatani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usaha tani tumpanggilir (P-P-K).

Penerimaan usahatani tumpanggilir (P-P-M) sebesar Rp 62.192.500,00 per hektar per tahun dan usahatani tumpanggilir (P-P-K) sebesar Rp 21.607.863,00 per hektar per tahun. Hasil uji hipotesa dengan uji ttest pada taraf kepercayaan 95% didapatkan thitumg sebesar 23,3320 dan ttabel = 1,671atau H1 diterima yang berarti penerimaan tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usahatani tumpanggilir (P-P-K).

Pendapatan rata-rata per hektar per tahun yang diperoleh petani dalam usaha tani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usahatani tumpanggilir (P-P-K). untuk usahatani tumpanggilir (P-P-M) sebesar Rp 24.066.115,00 dan usahatani tumpanggilir (P-P-K) sebesar Rp 9.403.830,00. Dari pengujian statistik dengan uji ttest pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung 9,0046 dan ttabel = 1,671. Dengan demikian H1 diterima atau pendapatan usahatani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usaha tani tumpanggilir (P-P-K).

Tingkat efisiensi usahatani tumpanggilir (P-P-M) sama efisiennya dengan usahatani tumpanggilir (P-P-K). dimana R/C ratio untuk usahatani tumpanggilir (P-P-M) = 1,63 dan R/C untuk usahatani tumpanggilir (P-P-K) sebesar 1,77. Dari hasil pengujian dengan uji ttest diperoleh thitung sebesar –1,4210 dan ttabel = 1,671. Dengan demikian Ho diterima yang artinya efisiensi usahatani tumpanggilir (P-P-M) tidak berbeda dengan usahatani tumpanggilir (P-P-K).

Alasan petani memilih usahatani tumpanggilir (P-P-M) atau usahatani (P-P-K) dipengaruhi oleh faktor modal, pemasaran, penanganan, pasca panen dan teknis.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah biaya produksi penerimaan dan pendapatan usahatani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usahatani tumpanggilir (P-P-K). secara umum usahatani tumpanggilir (P-P-M) dan usahatani tumpanggilir (P-P-K) di desa Gelung menguntungkan dan efisien.

Description Alternative :

Apabila kita dengan lebih seksama memperhatikan kondisi ekonomi petani pada umumnya yang masih rendah, dimana hal ini ditunjukkan dengan semakin sempitnya luas lahan yang diusahakan. Sehingga untuk meningkatkan hasil maka digunakan sistem Multiple Cropping, yang mana sistem ini adalah salah satu dari pola tanam yang dikembangkan dalam pemanfaatan lahan pertanian. Dengan sistem ini diharapkan akan diperoleh hasil persatuan luas lahan lebih tinggi dengan waktu sesingkat mungkin serta dapat dilaksanakan petani dengan lebih mudah. Dalam keadaam ekonomi petani yang masih rendah, petani cenderung untuk menghindari resiko kegagalan sebanyak mungkin. Oleh karena itu sistem tumpanggilir merupakan salah satu cara untuk mengurangi resiko kegagalan tersebut. Karena jika panen salah satu tanaman gagal dapat diimbangi dengan panen tanaman lainnya. Akan tetapi sebaliknya jika sistem tumpanggilir berhasil dapat mengurangi biaya produksi perjenis tanaman dan dapat menambah pendapatan petani.

Dua pola tanam usahatani tumpanggilir (P-P-M) dan usahatani tumpanggilir (P-P-K) di Desa Gelung, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi yaitu :

1. Padi – Padi – Melon (P-P-M)

2. Padi – Padi – Kedelai (P-P-K)

Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah ada perbedaan biaya, penerimaan, pendapatan dan efisiensi pada usahatani tumpanggilir (P-P-M) dan (P-P-K) dilahan sawah selama satu tahun ?

2. Alasan-alasan apa yang menjadi pertimbangan petani dalam menentukan pilihan untuk mengusahakan usahatani tumpanggilir (P-P-M) atau (P-P-K) ?

Sesuai dengan rumusan masalah , maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perbedaan biaya, penerimaan, pendapatan dan efisiensi usahatani tumpanggilir (P-P-M) dan (P-P-K) selama satu tahun.

2. Untuk mengetahui alasan petani dalam menentukan pilihan untuk mengusahakan usahatani tumpanggilir (P-P-M) atau (P-P-K).

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bahan informasi bagi petani tumpanggilir (P-P-M) dan (P-P-K) dalam mengambil keputusan yang ditujukan untuk meningkatkan pendapatan.

2. Bahan pelengkap informasi bagi pembuat kebijaksanaan dalam mengambil keputusan yang berguna untuk masyarakat serta informasi bagi peneliti selanjutnya.

Hipotesa dari penelitian ini adalah diduga biaya, penerimaan, pendapatan dan efisiensi pada usahatani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar daripada (P-P-K).

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan di desa Gelung, telah dikembangkan pola pertanian dengan sistem tumpanggilir (P-P-M) dan (P-P-K).

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode non proporsional stratified random sampling. Untuk usahatani tumpanggilir (P-P-M) diambil 100% dari 7 responden yaitu 7 petani. Untuk usahatani tumpanggilir (P-P-K) diambil 25% dari 160 responden yaitu 40 petani.

Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lokasi penelitian dan mengadakan wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan. Data sekunder diperoleh dari kantor Kepala Desa, Balai Penyuluhan dan sumber-sumber lainnya yang menunjang penulisan penelitian ini.

Total biaya produksi yang digunakan petani pada usahatani tumpanggilir (P-P-M) per hektar per tahun sebesar Rp 38.186.384,00 dan total biaya produksi pada usahatani tumpanggilir (P-P-K) sebesar Rp 12.204.033,00 per hektar per tahun. Hasil uji hipotesa dengan uji ttest pada taraf 95% didapatkan thitung sebesar 64,0770 dan ttabel = 1,671 atau H1 diterima yang berarti total biaya produksi usahatani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usaha tani tumpanggilir (P-P-K).

Penerimaan usahatani tumpanggilir (P-P-M) sebesar Rp 62.192.500,00 per hektar per tahun dan usahatani tumpanggilir (P-P-K) sebesar Rp 21.607.863,00 per hektar per tahun. Hasil uji hipotesa dengan uji ttest pada taraf kepercayaan 95% didapatkan thitumg sebesar 23,3320 dan ttabel = 1,671atau H1 diterima yang berarti penerimaan tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usahatani tumpanggilir (P-P-K).

Pendapatan rata-rata per hektar per tahun yang diperoleh petani dalam usaha tani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usahatani tumpanggilir (P-P-K). untuk usahatani tumpanggilir (P-P-M) sebesar Rp 24.066.115,00 dan usahatani tumpanggilir (P-P-K) sebesar Rp 9.403.830,00. Dari pengujian statistik dengan uji ttest pada taraf kepercayaan 95% diperoleh thitung 9,0046 dan ttabel = 1,671. Dengan demikian H1 diterima atau pendapatan usahatani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usaha tani tumpanggilir (P-P-K).

Tingkat efisiensi usahatani tumpanggilir (P-P-M) sama efisiennya dengan usahatani tumpanggilir (P-P-K). dimana R/C ratio untuk usahatani tumpanggilir (P-P-M) = 1,63 dan R/C untuk usahatani tumpanggilir (P-P-K) sebesar 1,77. Dari hasil pengujian dengan uji ttest diperoleh thitung sebesar –1,4210 dan ttabel = 1,671. Dengan demikian Ho diterima yang artinya efisiensi usahatani tumpanggilir (P-P-M) tidak berbeda dengan usahatani tumpanggilir (P-P-K).

Alasan petani memilih usahatani tumpanggilir (P-P-M) atau usahatani (P-P-K) dipengaruhi oleh faktor modal, pemasaran, penanganan, pasca panen dan teknis.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah biaya produksi penerimaan dan pendapatan usahatani tumpanggilir (P-P-M) lebih besar dari usahatani tumpanggilir (P-P-K). secara umum usahatani tumpanggilir (P-P-M) dan usahatani tumpanggilir (P-P-K) di desa Gelung menguntungkan dan efisien.


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJIPTUMM
OrganizationD
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id