Print ...

Contributor...

  • Editor:

Path: Top

Indonesia Harus Waspada, Dampak Perubahan Iklim Sudah di Depan Mata

Gray literature from JBPTUNIKOMPP / 2012-06-30 07:36:52
By : Intan Purnama Sari, Yayasan Pelangi Indonesia
Created : 2002-09-14, with files

Keyword : Perubahan Iklim

For Immediate Release

14 October, 2002; 09:00

Dalam beberapa tahun mendatang Indonesia akan mengalami krisis air, kemarau panjang, bencana banjir, kekurangan pangan, tenggelamnya banyak pulau serta meningkatnya penyakit malaria dan demam berdarah.

Jakarta, 14 Oktober 2002 - "Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Untuk itu pemerintah dan seluruh penduduk Indonesia harus segera mewaspadai hal ini dan menentukan langkah-langkah strategis untuk menanggulanginya," ujar Agus P. Sari, Direktur Eksekutif Pelangi.

"Kerugian yang harus ditanggung seluruh masyarakat Indonesia pada tahun 2070 akibat dampak perubahan iklim adalah sebesar 10 rupiah dari setiap 100 rupiah pendapatan penduduk Indonesia,"tandas Agus.

Jika Indonesia tidak melakukan tindakan apapun, maka bencana yang akan dialami oleh penduduk Indonesia sebagai akibat dari fenomena perubahan iklim, antara lain:

Krisis air bersih perkotaan yang saat ini sebenarnya sudah mulai dialami, khususnya di Jakarta. Hal ini disebabkan terutama karena adanya perubahan pola curah hujan sebagai salah satu dampak dari perubahan iklim, dimana frekuensi curah hujan menjadi sangat tidak menentu. Sehingga persediaan air tanah, khususnya di Jakarta, semakin menipis. Selain itu kenaikan permukaan air laut juga menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis air bersih. Intrusi air laut yang semakin meluas, akan semakin memperburuk kondisi air tanah di perkotaan. Hal ini menyebabkan penduduk Jakarta tidak lagi dapat bergantung pada air tanah sebagai sumber air bersih.

Kerawanan pangan sebagai akibat dari menurunnya produktivitas pertanian. Perubahan suhu dan pola hujan akan mengurangi produktivitas pertanian. Naiknya curah hujan akan mempercepat erosi tanah, sehingga mengurangi hasil dari tanaman dataran tinggi. Selain itu musim kemarau panjang dan banjir juga menjadi penyebab utama terjadinya gagal panen. Jika pemerintah tidak melakukan tindakan pencegahan, maka diperkirakan akan terjadi penurunan produksi beras sebesar 1% tiap tahunnya.

Meningkatnya frekuensi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Sebuah model analisis penyakit menular menunjukkan bahwa kasus malaria di Indonesia akan meningkat dari 2,705 kasus di tahun 1989 menjadi 3,246 kasus di tahun 2070. Sementara kasus demam berdarah akan meningkat lebih dari 4 kali, yaitu dari 6 kasus menjadi 26 kasus per 10,000 orang.

Perubahan pola curah hujan (presipitasi) yang sangat signifikan, hal ini akan menyebabkan sebagian bumi menjadi lebih basah dan sebagian lainnya menjadi lebih kering. Perubahan pola curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang bisa diserap oleh bumi. Hal ini disebabkan karena curah hujan akan semakin tinggi yang akan menyebabkan naiknya debit banjir dan air permukaan. Otomatis hal ini akan mengurangi kemampuan air untuk menyerap kedalam tanah, sehingga banjir akan lebih sering terjadi.

Meningkatnya permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub akibat meningkatnya suhu di permukaan bumi akan meningkatkan volume air laut secara global. Hal ini akan sangat berdampak pada negara-negara kepulauan dan negara yang terletak di pesisir pantai.

Pada tahun 2070, di Indonesia akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 60 cm. Bagi penduduk daerah pantai, ini menjadi ancaman bagi seluruh aspek kehidupan. Tempat tinggal mereka terancam banjir, sementara penghasilan mereka (baik sebagai nelayan maupun dari sektor pariwisata) terancam oleh perubahan gelombang pasang. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Pelangi dan hasilnya diterbitkan oleh Asian Development Bank (ADB) memperkirakan bahwa jika keadaan terus begini maka pada tahun 2070 sekitar 800.000 rumah di tepi pantai harus dipindahkan atau diperbaiki, yang secara total akan menghabiskan dana sekitar 30 milyar rupiah. Naiknya permukaan air laut bukan hanya memperngaruhi mereka yang tinggal di tepi pantai, melainkan juga bagi mereka di kota – khususnya kota Jakarta.

Rusaknya infrastruktur daerah tepi pantai. Indonesia akan kehilangan sekitar 1.000 km jalan dan 5 pelabuhan lautnya akibat kenaikan muka air laut. Selain itu infrastruktur lain disekeliling pantai perlu direhabilitasi dan ditinggikan. Semua ini diperkirakan akan mengambil biaya 42 milyar rupiah setiap tahunnya. Belum lagi ditambah kerugian dalam sektor pariwisata sebesar 4 milyar rupiah pertahun.

Beberapa jenis keanekaragaman hayati terancam punah akibat perubahan iklim. Pergerakan zona iklim akan menyebabkan perubahan pada komposisi dan penyebaran geografis ekosistem. Setiap individu harus beradaptasi pada perubahan yang terjadi, sementara habitatnya akan terdegradasi. Spesies yang tidak dapat beradaptasi akan punah.

Perubahan iklim juga menyebabkan matinya terumbu-terumbu karang akibat adanya peningkatan temperatur laut walau hanya sebesar 2-3oC. Peningkatan temperatur akan menyebabkan alga yang tumbuh pada terumbu karang akan mati. Matinya alga yang merupakan makanan dan pemberi warna pada terumbu karang, pada akhirnya juga akan menyebabkan matinya terumbu karang sehingga warnanya berubah menjadi putih.

"Negara berkembang dianggap sangat rentan terhadap perubahan iklim karena kemampuannya yang rendah dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim, baik dari segi keuangan maupun kelembagaan, terutama dalam hal pembuatan kebijakan yang berhubungan dengan perubahan iklim dan adaptasi,"jelas Agus.

Pelangi mengusulkan beberapa langkah strategis yang harus dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam melakukan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, antara lain:

Melakukan upaya-upaya pencegahan agar perubahan iklim dapat diperlambat sehingga dampaknya tidak terlalu ekstrem.

Melakukan manajemen terhadap dampak perubahan iklim yang telah terjadi.

Melakukan pemberdayaan masyarakat agar dapat beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Melakukan perencanaan dan persiapan terhadap bencana-bencana yang akan terjadi, termasuk di dalamnya sistem peringatan dini.

Tiap lembaga pemerintahan yang berkaitan dengan dampak perubahan iklim harus bersinergi untuk membuat sebuah rencana atau kebijakan strategis.

"Kasus banjir yang terjadi pada bulan Februari tahun ini merupakan contoh dari ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi dan menanggulangi bencana,"tegas Agus.

Pada akhir Oktober, Pelangi akan mengirimkan perwakilannya untuk menghadiri konferensi tahunan mengenai perubahan iklim, Pertemuan Para Pihak ke-8, yang diadakan oleh PBB. Pertemuan Para Pihak ke-8 atau lebih dikenal dengan COP 8 akan berlangsung sejak 23 Oktober - 1 November 2002 di New Delhi, India.

Contact Person :

Agus P. Sari, apsari@pelangi.or.id, telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361

Moekti H. Soejachmoen, kuki@pelangi.or.id, telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361

Olivia Tanujaya, olivia@pelangi.or.id, telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361

Armely Meiviana, mel@pelangi.or.id, telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361

Catatan untuk editor:

Perubahan iklim adalah sebuah fenomena dimana panas matahari yang masuk ke bumi hanya sebagian kecil yang dapat dipantulkan kembali ke atmosfer, sementara sisanya terjebak di bumi akibat adanya lapisan gas rumah kaca di atmosfer. Terjebaknya panas matahari ini pada akhirnya menyebabkan bumi menjadi semakin panas yang peristiwanya dikenal dengan pemanasan global/ global warming. Pemanasan global ini kemudian menimbulkan adanya perubahan iklim dimana sebagian wilayah akan menjadi semakin panas, sementara sebagian wilayah yang lain akan menjadi semakin dingin.

Menurut Protokol Kyoto, yang dimaksud dengan Gas Rumah Kaca adalah CO2, CH4, N2O, PFC, HFC, SF6. Ke 6 gas rumah kaca ini terutama dihasilkan dari kegiatan pembakaran bahan bakar fosil, seperti pada transportasi, dapur, pembangkit listrik, industri, dll.

Sumber-sumber gas rumah kaca selain dari kegiatan pembakaran gas rumah kaca, juga dihasilkan dari peternakan, pertanian, kehutanan, dan perubahan tata guna lahan. Menurut studi ALGAS (Asian Least-Cost Greenhouse gas Abatement Strategy) yang dilakukan di Indonesia, kontribusi gas rumah kaca terbesar di Indonesia berasal dari sektor kehutanan (deforestasi) dan energi. Sementara emisi terbesar kedua dihasilkan dari sektor pertanian dan peternakan.

- ip

Description Alternative :

For Immediate Release

14 October, 2002; 09:00

Dalam beberapa tahun mendatang Indonesia akan mengalami krisis air, kemarau panjang, bencana banjir, kekurangan pangan, tenggelamnya banyak pulau serta meningkatnya penyakit malaria dan demam berdarah.

Jakarta, 14 Oktober 2002 - "Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Untuk itu pemerintah dan seluruh penduduk Indonesia harus segera mewaspadai hal ini dan menentukan langkah-langkah strategis untuk menanggulanginya," ujar Agus P. Sari, Direktur Eksekutif Pelangi.

"Kerugian yang harus ditanggung seluruh masyarakat Indonesia pada tahun 2070 akibat dampak perubahan iklim adalah sebesar 10 rupiah dari setiap 100 rupiah pendapatan penduduk Indonesia,"tandas Agus.

Jika Indonesia tidak melakukan tindakan apapun, maka bencana yang akan dialami oleh penduduk Indonesia sebagai akibat dari fenomena perubahan iklim, antara lain:

Krisis air bersih perkotaan yang saat ini sebenarnya sudah mulai dialami, khususnya di Jakarta. Hal ini disebabkan terutama karena adanya perubahan pola curah hujan sebagai salah satu dampak dari perubahan iklim, dimana frekuensi curah hujan menjadi sangat tidak menentu. Sehingga persediaan air tanah, khususnya di Jakarta, semakin menipis. Selain itu kenaikan permukaan air laut juga menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis air bersih. Intrusi air laut yang semakin meluas, akan semakin memperburuk kondisi air tanah di perkotaan. Hal ini menyebabkan penduduk Jakarta tidak lagi dapat bergantung pada air tanah sebagai sumber air bersih.

Kerawanan pangan sebagai akibat dari menurunnya produktivitas pertanian. Perubahan suhu dan pola hujan akan mengurangi produktivitas pertanian. Naiknya curah hujan akan mempercepat erosi tanah, sehingga mengurangi hasil dari tanaman dataran tinggi. Selain itu musim kemarau panjang dan banjir juga menjadi penyebab utama terjadinya gagal panen. Jika pemerintah tidak melakukan tindakan pencegahan, maka diperkirakan akan terjadi penurunan produksi beras sebesar 1% tiap tahunnya.

Meningkatnya frekuensi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Sebuah model analisis penyakit menular menunjukkan bahwa kasus malaria di Indonesia akan meningkat dari 2,705 kasus di tahun 1989 menjadi 3,246 kasus di tahun 2070. Sementara kasus demam berdarah akan meningkat lebih dari 4 kali, yaitu dari 6 kasus menjadi 26 kasus per 10,000 orang.

Perubahan pola curah hujan (presipitasi) yang sangat signifikan, hal ini akan menyebabkan sebagian bumi menjadi lebih basah dan sebagian lainnya menjadi lebih kering. Perubahan pola curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang bisa diserap oleh bumi. Hal ini disebabkan karena curah hujan akan semakin tinggi yang akan menyebabkan naiknya debit banjir dan air permukaan. Otomatis hal ini akan mengurangi kemampuan air untuk menyerap kedalam tanah, sehingga banjir akan lebih sering terjadi.

Meningkatnya permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub akibat meningkatnya suhu di permukaan bumi akan meningkatkan volume air laut secara global. Hal ini akan sangat berdampak pada negara-negara kepulauan dan negara yang terletak di pesisir pantai.

Pada tahun 2070, di Indonesia akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 60 cm. Bagi penduduk daerah pantai, ini menjadi ancaman bagi seluruh aspek kehidupan. Tempat tinggal mereka terancam banjir, sementara penghasilan mereka (baik sebagai nelayan maupun dari sektor pariwisata) terancam oleh perubahan gelombang pasang. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Pelangi dan hasilnya diterbitkan oleh Asian Development Bank (ADB) memperkirakan bahwa jika keadaan terus begini maka pada tahun 2070 sekitar 800.000 rumah di tepi pantai harus dipindahkan atau diperbaiki, yang secara total akan menghabiskan dana sekitar 30 milyar rupiah. Naiknya permukaan air laut bukan hanya memperngaruhi mereka yang tinggal di tepi pantai, melainkan juga bagi mereka di kota – khususnya kota Jakarta.

Rusaknya infrastruktur daerah tepi pantai. Indonesia akan kehilangan sekitar 1.000 km jalan dan 5 pelabuhan lautnya akibat kenaikan muka air laut. Selain itu infrastruktur lain disekeliling pantai perlu direhabilitasi dan ditinggikan. Semua ini diperkirakan akan mengambil biaya 42 milyar rupiah setiap tahunnya. Belum lagi ditambah kerugian dalam sektor pariwisata sebesar 4 milyar rupiah pertahun.

Beberapa jenis keanekaragaman hayati terancam punah akibat perubahan iklim. Pergerakan zona iklim akan menyebabkan perubahan pada komposisi dan penyebaran geografis ekosistem. Setiap individu harus beradaptasi pada perubahan yang terjadi, sementara habitatnya akan terdegradasi. Spesies yang tidak dapat beradaptasi akan punah.

Perubahan iklim juga menyebabkan matinya terumbu-terumbu karang akibat adanya peningkatan temperatur laut walau hanya sebesar 2-3oC. Peningkatan temperatur akan menyebabkan alga yang tumbuh pada terumbu karang akan mati. Matinya alga yang merupakan makanan dan pemberi warna pada terumbu karang, pada akhirnya juga akan menyebabkan matinya terumbu karang sehingga warnanya berubah menjadi putih.

"Negara berkembang dianggap sangat rentan terhadap perubahan iklim karena kemampuannya yang rendah dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim, baik dari segi keuangan maupun kelembagaan, terutama dalam hal pembuatan kebijakan yang berhubungan dengan perubahan iklim dan adaptasi,"jelas Agus.

Pelangi mengusulkan beberapa langkah strategis yang harus dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam melakukan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, antara lain:

Melakukan upaya-upaya pencegahan agar perubahan iklim dapat diperlambat sehingga dampaknya tidak terlalu ekstrem.

Melakukan manajemen terhadap dampak perubahan iklim yang telah terjadi.

Melakukan pemberdayaan masyarakat agar dapat beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Melakukan perencanaan dan persiapan terhadap bencana-bencana yang akan terjadi, termasuk di dalamnya sistem peringatan dini.

Tiap lembaga pemerintahan yang berkaitan dengan dampak perubahan iklim harus bersinergi untuk membuat sebuah rencana atau kebijakan strategis.

"Kasus banjir yang terjadi pada bulan Februari tahun ini merupakan contoh dari ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi dan menanggulangi bencana,"tegas Agus.

Pada akhir Oktober, Pelangi akan mengirimkan perwakilannya untuk menghadiri konferensi tahunan mengenai perubahan iklim, Pertemuan Para Pihak ke-8, yang diadakan oleh PBB. Pertemuan Para Pihak ke-8 atau lebih dikenal dengan COP 8 akan berlangsung sejak 23 Oktober - 1 November 2002 di New Delhi, India.

Contact Person :

Agus P. Sari, apsari@pelangi.or.id, telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361

Moekti H. Soejachmoen, kuki@pelangi.or.id, telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361

Olivia Tanujaya, olivia@pelangi.or.id, telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361

Armely Meiviana, mel@pelangi.or.id, telp. di Pelangi, 62 (21) 573-5020, 571-9360, 571-9361

Catatan untuk editor:

Perubahan iklim adalah sebuah fenomena dimana panas matahari yang masuk ke bumi hanya sebagian kecil yang dapat dipantulkan kembali ke atmosfer, sementara sisanya terjebak di bumi akibat adanya lapisan gas rumah kaca di atmosfer. Terjebaknya panas matahari ini pada akhirnya menyebabkan bumi menjadi semakin panas yang peristiwanya dikenal dengan pemanasan global/ global warming. Pemanasan global ini kemudian menimbulkan adanya perubahan iklim dimana sebagian wilayah akan menjadi semakin panas, sementara sebagian wilayah yang lain akan menjadi semakin dingin.

Menurut Protokol Kyoto, yang dimaksud dengan Gas Rumah Kaca adalah CO2, CH4, N2O, PFC, HFC, SF6. Ke 6 gas rumah kaca ini terutama dihasilkan dari kegiatan pembakaran bahan bakar fosil, seperti pada transportasi, dapur, pembangkit listrik, industri, dll.

Sumber-sumber gas rumah kaca selain dari kegiatan pembakaran gas rumah kaca, juga dihasilkan dari peternakan, pertanian, kehutanan, dan perubahan tata guna lahan. Menurut studi ALGAS (Asian Least-Cost Greenhouse gas Abatement Strategy) yang dilakukan di Indonesia, kontribusi gas rumah kaca terbesar di Indonesia berasal dari sektor kehutanan (deforestasi) dan energi. Sementara emisi terbesar kedua dihasilkan dari sektor pertanian dan peternakan.

- ip


Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTUNIKOMPP
OrganizationY
Contact Namedyah@unikom.ac.id
AddressJl. Dipati Ukur No.116 Lt.7
CityBandung
RegionWest Java
CountryIndonesia
Phone022-2533825 ext.112
Fax022-2533754
Administrator E-mailperpus@unikom.ac.id
CKO E-mailperpus@unikom.ac.id